Gambaran Kondisi Petugas Penanganan Karhutla di Garis Depan. Sudah Dua Bulan Berjibaku Melawan Api

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:52 WIB
Salah satu anggota tim gabungan saat berusaha menjinakkan api yang membakar salah satu areal lahan di wilayah Kota Palangka Raya, baru-baru tadi.(istimewa/BPBD Palangka Raya)
Salah satu anggota tim gabungan saat berusaha menjinakkan api yang membakar salah satu areal lahan di wilayah Kota Palangka Raya, baru-baru tadi.(istimewa/BPBD Palangka Raya)

Kobaran api serta kepulan asap menjadi pemandangan rutin bagi petugas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, selama musim kemarau ini.  Saat sebagian warga bisa beristirahat di rumah, mereka harus bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Berpacu dengan waktu, berjibaku di tengah panas, asap, dan sulitnya medan, serta terbatasnya peralatan.

---------------------------------------

Kebakaran lahan yang terjadi di wilayah Palangka Raya, hingga Pulang Pisau menjadi salah satu fokus penanganan oleh tim gabungan, selain di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dan kabupaten lainnya di Kalteng.

Dalam sehari, belasan titik kebakaran bisa muncul dan harus ditangani tim gabungan. Mereka pun dituntut sigap agar api tidak merembet ke lahan yang lebih luas. Apalagi jika kebakaran mendekati objek vital dan pemukiman warga.

“Intensitas penanganan karhutla meningkat dalam dua bulan terakhir, terutama sepanjang Juli hingga Agustus. Jadi sudah lebih dari dua bulan ini kami semakin bergerak dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan,  ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kota Palangka Raya, Heri Fauzi kepada Radar Sampit, Selasa (11/8).

Setiap hari, lanjut dia, sekitar 136 personel diturunkan untuk menangani karhutla di berbagai lokasi. Namun, pekerjaan tersebut bukan tanpa kendala. Tak jarang lokasi kebakaran berada cukup jauh dari sumber air. Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang. Mobil tangki juga tidak selalu bisa menjangkau lokasi karena akses yang sulit.

“Itu kendalanya. Termasuk sulitnya masuk tangki dan dilakukan dropping air menggunakan embung maupun sumur bor,” jelasnya.

Dirinya juga menggambarkan kondisi tim gabungan, khususnya personel BPBD dan pemadam kebakaran (damkar), hingga kini masih dalam keadaan baik. Namun diakuinya, rasa lelah tidak bisa dihindari karena personel terus bekerja di lapangan. Tetapi mereka tetap semangat.

Baca Juga: Excavator Milik Pemda Terbakar di Tengah Karhutla Bagendang, Dibakar atau Terbakar?

“Kalau ditanya bagaimana kondisi fisik dan kesehatan, alhamdulillah tim Satgas Karhutla Kota Palangka Raya masih aman dan sehat,” paparnya.

Heri juga mengungkapkan, agar kondisi badan tetap terjaga dan tetap bisa menjalankan tugas, waktu istirahat pun harus dibagi. Selain itu pengecekan kesehatan rutin dilakukan petugas Dinas Kesehatan. Petugas pemadaman api juga mendapat vitamin dan suplemen penunjang stamina.

Selain itu, penggunaan masker serta perlengkapan keselamatan menjadi perhatian untuk meminimalkan risiko selama berada di lokasi kebakaran.

“Ada suplemen khusus untuk menjaga stamina. Sejauh ini belum ada cedera maupun hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkap Heri.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, pihaknya berkomitmen tidak akan menyerah dalam penanganan karhutla.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi juga mengungkapkan,respons cepat menjadi kunci untuk mencegah api meluas.

 “Begitu menerima laporan, Satgas Karhutla langsung bergerak ke lokasi dan melakukan pemadaman. Seperti kebakaran lahan di Jalan Tegal Sari cukup rawan, dekat dengan permukiman warga,sehingga harus segera ditangani,” bebernya.

Diungkapkannya pula, pemadaman karhutla di Palangka Raya memiliki tantangan  khusus. Sebagian besar kebakaran terjadi di lahan gambut. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menunjukkan kebakaran telah benar-benar padam. Karena itu, penyiraman harus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan bara tidak kembali muncul.

“Kami tidak bisa memadamkan api hingga benar-benar tuntas apabila belum dilakukan pembasahan secara menyeluruh sampai lahan tergenang air. Kalau itu belum dilakukan, kemungkinan api akan muncul kembali,” papar Hendrikus.

Banyaknya titik api yang muncul hampir bersamaan juga membuat personel harus membagi kekuatan. Setelah satu lokasi berhasil dijinakkan agar tidak meluas, petugas harus berpindah ke titik lain yang membutuhkan penanganan segera.

“Karena titik api cukup banyak di beberapa lokasi, mau tidak mau kami harus meninggalkan lokasi yang apinya sudah berhasil dijinakkan untuk menangani titik api lainnya. Jika ada kesempatan, kami akan kembali lagi melakukan pembasahan agar api benar-benar padam,” terangnya.

Hendrikus juga mengungkapkan, sejauh ini faktor aktivitas manusia menjadi pemicu utama kebakaran lahan.Kelalaian maupun dugaan kesengajaan dapat menjadi pemicu munculnya api.

Penanganan karhutla, pihaknya juga mendapat dukungan dari BPBD Provinsi Kalteng, Dinas Kehutanan, serta Manggala Agni.Tak hanya mengandalkan personel reguler, BPBD juga merekrut enam regu relawan untuk memperkuat proses pemadaman di sejumlah lokasi terdampak.

Di sisi lain, perjuangan para petugas di lapangan juga mendapat perhatian. Kepala Dinas Kehutanan Kalteng Agustan Saining menyampaikan, petugas dan masyarakat peduli api (MPA), baik yang berada di bawah pembinaan BPBD, Dinas Kehutanan maupun Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), mendapatkan dukungan honorarium serta bantuan konsumsi selama bertugas.

Selain dukungan tersebut, Gubernur Kalteng Agustiar Sabran juga memberikan perhatian secara berkala sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi para petugas pemadam.

“Dukungan itu diharapkan menjadi tambahan semangat bagi para petugas dan relawan yang berada di garis depan. Sebab, di tengah ancaman karhutla yang terus menghantui, mereka menjadi garda terdepan untuk menjaga lahan, lingkungan, sekaligus keselamatan masyarakat,” pungkas Agustan Saining. (daq/gus)

 

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
bpbd penanganan petugas tim gabungan karhutla