Mengenal Sosok dr Muhammad Zulfikar Drakel,Si Bungsu yang Rajin dan Patuh dengan Orang Tua

Rado. • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 21:18 WIB
Jenazah dr Muhammad Zulfikar Drakel saat disalatkan di rumah duka, menjelang dimakamkan pada Kamis (23/7) sore.(rado/radarsampit)
Jenazah dr Muhammad Zulfikar Drakel saat disalatkan di rumah duka, menjelang dimakamkan pada Kamis (23/7) sore.(rado/radarsampit)

Senin malam itu, seperti hari-hari sebelumnya, dr Muhammad Zulfikar Drakel menghubungi ibunya di Sampit dari tempat tugasnya di Lampung. Percakapan berlangsung hangat. Tidak ada firasat. Tidak ada kata-kata perpisahan. Bagi keluarga, itu hanyalah telepon biasa antara seorang anak yang sedang merantau dengan ibunya di Sampit.Namun, siapa sangka, itulah percakapan terakhir mereka.

-----------------------------

Kesibukan menjalani pendidikan hingga program internship membuat Zulfikar sudah beberapa bulan tidak pulang ke Sampit. Tugas sebagai dokter muda menjadi alasan mengapa ia memilih tetap berada di lokasi penugasan, yakni di RSUD Sukadana Kabupaten Lampung Timur.

Meski jauh dari keluarga, komunikasi tidak pernah terputus. Telepon kepada orang tua menjadi rutinitas yang selalu dijaga. Karena itu, tak ada yang menyangka percakapan pada Senin malam itu menjadi komunikasi terakhirnya.

"Malam Senin itu ibunya masih komunikasi," tutur sang ayah, Djunaedi Drakel, saat ditemui di rumah duka di Jalan Kapten Mulyono, Kamis (23/7).

Mantan anggota DPRD Kotim ini melanjutkan, kurang dari 24 jam kemudian, suasana rumah berubah. Selasa malam, telepon kembali berdering. Kali ini bukan dari sang anak, melainkan dari anggota Polres Metro Lampung.

Kabar duka disampaikan. Zulfikar ditemukan meninggal dunia di Kota Metro, Lampung, saat menjalani Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) di RSUD Sukadana, Kabupaten Lampung Timur.

Djunaedi awalnya tak percaya kabar tersebut. Bahkan, ia sempat mengira telepon itu hanyalah modus penipuan yang belakangan marak terjadi.

Baca Juga: Tiba Siang Ini, Almarhum dr. Muhammad Zulfikar akan Dimakamkan di TPU Muslimin Antasari Sampit

"Saya sempat tidak percaya dan jangan-jangan ini modus yang marak terjadi. Sampai akhirnya mereka melakukan video call untuk memastikan. Baru kami yakin itu benar anak kami," katanya lirih.

Sejak saat itu, rumah keluarga di Jalan Kapten Mulyono Sampit itu langsung ramai. Kerabat, sahabat, hingga masyarakat silih berganti datang menyampaikan belasungkawa. Papan-papan karangan bunga datang memenuhi halaman rumah. Di dalam, keluarga menunggu kepulangan jenazah Zulfikar, yang menempuh perjalanan dari Lampung-Jakarta-Sampit.

Bagi Djunaedi dan istrinya, Ririn Rosyana yang aktif dalam urusan sosial itu, kehilangan ini begitu berat. Zulfikar bukan hanya putra bungsu dari empat bersaudara, tetapi juga anak yang selama ini dikenal patuh kepada orang tua.

Menurut Djunaedi, putranya selalu memegang teguh prinsip hidup sejak masih menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). "Dia memang anak yang rajin dan patuh kepada orang tua. Prinsipnya kalau sudah jadi dokter, dia ingin menolong orang-orang yang tidak mampu. Itu memang harapan kami juga sejak awal," ungkapnya.

Selain dikenal cerdas, Zulfikar juga merupakan sosok berprestasi. Dokter muda berusia 25 tahun itu disebut mampu menguasai beberapa bahasa asing. Prestasi akademiknya pun membuat keluarga bangga, tetapi kerendahan hati dan kepeduliannya kepada sesama menjadi kenangan yang paling membekas.

"Semuanya sudah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa," ucap Djunaedi, yang berusaha tegar meski matanya berkaca-kaca.

Sementara itu, jenazah dijadwalkan tiba di Bandara H Asan Sampit sekitar pukul 14.00 WIB setelah diterbangkan dari Lampung melalui Jakarta. Sesampainya di rumah duka dan sebelum dimakamkan, jenazah disalatkan secara berjamaah.

"Dimakamkan di pemakaman Muslimin Jalan Antasari. Paling lambat jam lima sore di sana. Sekarang kami masih menunggu dari bandara, diperkirakan pukul 14.00 WIB mendarat," pungkas Djunaedi Drakel.

Sebelumnya diketahui dari pemberitaan di media sosial, dokter muda alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) itu ditemukan meninggal dunia di kamar mandi sebuah penginapan di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro, Lampung, Selasa (21/7/2026) malam. Identitasnya diketahui bernama Muhamad Zulfikar Drakel (25).

Zulfikar merupakan dokter koas asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Dia tercatat sebagai alumni FK UI angkatan 2018 dan tengah menjalani program internship di RSUD Sukadana, Kabupaten Lampung Timur.

Kabar meninggalnya dokter muda peserta Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) itu juga jadi perhatian Kementerian Kesehatan. Melalui akun resmi media sosial kementrian, turut disampaikan belasungkawa atas wafatnya Zulfikar dan mengapresiasi dedikasi yang telah diberikan selama bertugas melayani masyarakat.

“Selamat jalan, dr. Zulfikar. Pengabdian dan dedikasimu dalam melayani masyarakat akan selalu dikenang serta menjadi teladan bagi dunia kesehatan Indonesia,” tulis Kemenkes.

Dalam unggahan tersebut, Kemenkes juga menyampaikan terima kasih atas kontribusi almarhum dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat selama mengikuti Program Internship Dokter Indonesia.

Sementara itu, Dekan FKUI, Anna Rozaliyana, turut menyampaikan duka cita atas wafatnya Zulfikar yang merupakan alumni FKUI.

Menurut Anna, kepergian seorang dokter muda merupakan kehilangan besar bagi dunia kesehatan. Ia menilai peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tenaga kesehatan, khususnya dokter muda, yang membutuhkan dukungan serta lingkungan kerja yang aman dan manusiawi.

“Di balik tugas, tanggung jawab, dan tuntutan pelayanan, setiap dokter tetaplah manusia yang memiliki batas, membutuhkan dukungan, dan berhak berada dalam lingkungan kerja yang aman, sehat, serta bermartabat,” ujarnya dikutip dari IDN Times, Kamis (23/7).

Anna menegaskan, bahwa meskipun program internship berada di luar tata kelola langsung universitas, FKUI memiliki tanggung jawab moral untuk terus mendorong terciptanya sistem pendampingan yang baik bagi dokter muda.

FKUI juga menyoroti pentingnya komunikasi terbuka, pembagian beban kerja yang proporsional, serta budaya kerja yang saling mendukung di lingkungan pelayanan kesehatan.

Menurut Anna, kelelahan, tekanan kerja, maupun perasaan terisolasi tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar dalam proses pembentukan dokter profesional.

“Ketangguhan profesional tidak dibangun dengan mengabaikan kemanusiaan, melainkan dengan sistem yang mampu mendengar, melindungi, dan hadir ketika seseorang membutuhkan pertolongan,” pungkasnya. (ang/sla/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
dokter internship asal sampit Muhammad Zulfikar Drakel Lampung Timur RSUD Sukadana sampit