Harga Jual Merosot, Hadapi Tantangan Cuaca
Belakangan ini, harga Mentimun di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bisa dibilang anjlok. Situasi itu pun dikeluhkan para petani lokal, di tengah kesulitan mereka memperoleh pupuk bersubsidi. Mereka terancam rugi ketika musim panen tiba.
---------------------------------------
Anjloknya harga timun di tingkat petani yang tidak sebanding dengan tinggiya biaya produksi, ditambah sulitnya memperoleh pupuk subsidi, jadi beban berat yang dihadapi petani sayur di Kotim.
Salah satu yang merasakan kondisi itu adalah Muhammad Taufik, salah satu anggota Kelompok Tani Karya Indah yang berkebun di Jalan SPG, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang/Sampit.
Di lahan hampir satu hektare miliknya, ia tetap menanam timun meski harus berhadapan dengan harga jual yang merosot dan biaya produksi yang semakin tinggi.
Ia mengungkapkan, persoalan yang paling memberatkan saat ini adalah sulitnya mendapatkan pupuk subsidi. Ia pun terpaksa membeli pupuk non-subsidi dengan harga jauh lebih mahal.
"Nah, ini masalahnya. Pupuk subsidi itu jarang keluar. Kalau beli yang non-subsidi, satu karung isi 50 kilogram harganya bisa sampai Rp1 juta," ungkap Taufik.
Baca Juga: Warga Binaan Lapas Sukamara Panen Timun, Kangkung dan Pelihara Ayam Broiler
Besarnya biaya produksi itu tidak sebanding dengan harga jual timun dari tangan petani. Khususnya untuk satu kali masa tanam hingga panen, Taufik mengaku harus mengeluarkan modal sekitar Rp10 juta. Sementara hasil panen dari 12 kali petik rata -rata mencapai 2,5 ton.
"Kalau harga timun cuma Rp2.000 per kilogram, pendapatan kami hanya sekitar Rp5 juta. Artinya sudah rugi separuh dari modal , belum lagi biaya operasional harian," terangnya.
Menurut Taufik, harga mentimun ideal agar petani masih memperoleh keuntungan, yakni berada di kisaran Rp5.000 per kilogram. Namun kenyataannya, setelah sempat dibeli Rp5.000 per kilogram pada awal panen, harga terus turun menjadi Rp3.000 per kg, dan hingga bertahan sekitar Rp2.000 per kg.
Ia juga mengungkapkan, selain persoalan harga, sebagai petani sayur dirinya juga dihadapkan pada tantangan cuaca yang sulit diprediksi. Saat musim hujan, tanaman rentan terserang jamur sehingga memerlukan penyemprotan fungisida yang lebih sering. Sebaliknya, pada musim kemarau, tanaman harus disiram air lebih sering agar tetap tumbuh optimal.
Sementara itu, demi menjaga kesuburan lahan sekaligus mengurangi risiko serangan penyakit, Taufik menerapkan sistem tanam bergilir. Setelah panen mentimun selesai, lahannya ditanami tomat, cabai, maupun jagung. Menurutnya, jagung sengaja ditanam di akhir siklus, karena mampu membantu memperbaiki kondisi tanah.
Baru-baru ini, meski mendengar kabar harga mentimun di pasar mulai merangkak naik, Taufik mengaku belum tentu bisa menikmati kenaikan itu. Saat ini tanaman timunnya sudah memasuki panen ke tujuh, sedangkan umur produktif tanaman itu, biasanya hanya bertahan hingga sekitar 12 kali panen sebelum akhirya mati.
Taufik pun berharap bersama anggota Kelompok Tani Karya Indah lainnya yang tetap bertahan mengelola lahan, agar ketersediaan pupuk subsidi semakin mudah diakses. Selain itu berharap hasil panen mendapatkan harga yang stabil dan layak. (*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama