Di tengah mulai maraknya lahan yang terbakar, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) dituntut menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi krisis air bersih selama musim kemarau. Situasi itu biasanya melanda sejumlah desa di wilayah selatan, seperti pada musim kemarau di tahun-tahun sebelumnya.
-----------------------------
Berdasarkan buletin iklim Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika di bulan Juni 2026, Diperkirakan curah hujan di seluruh wilayah Kotim sudah berada pada kategori sangat rendah, yakni hanya 0–20 milimeter atau di bawah normal.Kondisi tersebut pun menggambarkan rawannya kebakaran lahan dan kekeringan, serta krisis air bersih.
Bupati Kotim Halikinnor pun menyatakan, pihaknya terus memantau perkembangan musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir Juli hingga Agustus 2026. Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemerintah juga mengantisipasi dampak lain berupa berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.
"Kalau memang terjadi krisis air bersih, nanti akan kita lakukan dropping air dari Sampit," ujarnya, Rabu (8/7).
Di sisi lain lanjutnya, Pemkab Kotim terus memperluas layanan air bersih melalui jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Saat ini layanan PDAM telah menjangkau Desa Parebok dan secara bertahap akan diperluas ke wilayah selatan. Ke depan, Pemkab Kotim menargetkan layanan air bersih tersebut dapat menjangkau hingga Pulau Hanaut.
"PDAM sekarang sudah sampai Desa Parebok. Kita upayakan terus setiap tahun walaupun anggaran terbatas supaya wilayah selatan sampai Pulau Hanaut nantinya bisa menerima layanan air PDAM," ujar Halikinnor.
Baca Juga: Karhutla di Eka Bahurui Sudah Berkobar Lima Hari, BNPB Kirim Dua Helikopter Water Bombing
Ia berharap, perluasan jaringan PDAM dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sumber air yang rentan mengering saat musim kemarau, sekaligus meningkatkan akses layanan air bersih bagi warga di wilayah selatan Kotim.
Halikinnor juga mengungkapkan informasi dari BMKG, menunjukkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat seluruh pihak harus meningkatkan kewaspadaan agar karhutla tidak berkembang menjadi bencana asap yang berdampak luas.
"Ini memasuki musim kemarau dan menurut informasi BMKG panas tahun ini kemungkinan menjadi yang terpanas dalam 30 tahun terakhir. Karena itu saya menghimbau seluruh masyarakat agar berhati-hati, terutama yang masih melakukan penggarapan lahan," imbuhnya.
Berdasarkan informasi BMKG, wilayah Kotim saat ini telah memasuki musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir Juli hingga Agustus 2026.
Halikinnor secara tegas juga meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, kondisi lahan gambut di Kotim sangat rentan memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan.
Ia mencontohkan, kebakaran yang belum lama ini terjadi di sekitar kawasan Bandara H Asan Sampit. Meski luas lahan yang terbakar tidak terlalu besar, proses pemadaman membutuhkan upaya besar, bahkan harus dibantu operasi udara menggunakan helikopter water bombing.
"Kalau mulai terjadi kebakaran kita akan kesulitan. Seperti kemarin yang terjadi dekat bandara, dengan lokasi sebegitu saja kita setengah mati memadamkannya," tegas Halikinnor.
Selain mengingatkan masyarakat, dirinya juga meminta perusahaan besar swasta, khususnya sektor perkebunan, tidak tinggal diam apabila terjadi kebakaran di sekitar wilayah operasionalnya. Perusahaan diharapkan segera membantu penanganan sebelum api meluas ke area yang lebih luas.(*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama