Sejumlah Bendar Pusaka Dipamerkan
Suasana sakral menyelimuti beberapa wilayah Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, setiap tanggal 7 bulan 7 atau Juli. Pada hari yang diyakini sebagai momentum penting dalam tradisi masyarakat Dayak Tomun itu, 10 desa dan satu kelurahan secara serentak menggelar Upacara Adat Bobantan Laman. Ritual adat tertinggi yang diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan syukur sekaligus memohon keselamatan bagi seluruh warga.
---------------------------------------
Dijabarkan Damang Kepala Adat Kecamatan Delang, Albatros Popo yang memiliki gelar adat Omas Tomonggung Bela Budaya itu, bahwa Upacara Bobantan Laman merupakan bagian dari agama dan kepercayaan leluhur masyarakat Dayak Delang yang hingga kini tetap dilestarikan. Ritual tersebut menjadi simbol penghormatan kepada para pendiri kampung atau laman yang telah mewariskan kehidupan bagi generasi penerus.
"Bobantan Laman adalah kegiatan adat tertinggi karena di dalamnya berisi doa-doa keselamatan dan doa syukur kepada para leluhur yang mendirikan kampung atau laman," ujarnya, Selasa (7/7).
Albatros melanjutkan, salah satu prosesi yang paling dinanti masyarakat adalah dikeluarkannya berbagai benda pusaka adat yang selama ini disimpan secara khusus. Sebelum diperlihatkan kepada masyarakat, seluruh pusaka terlebih dahulu dibersihkan dan melalui prosesi adat.
"Pusaka tersebut dikeluarkan, dibersihkan, lalu diposanganan (didongengkan/diceritakan ), sebelum diperlihatkan kepada masyarakat," paparnya.
Masyarakat yang hadir pun diberikan kesempatan untuk melihat bahkan memegang benda-benda pusaka tersebut. Dalam kepercayaan masyarakat adat Kaharingan, prosesi itu diyakini membawa petuah keselamatan, keberkahan, serta rezeki bagi mereka yang mengikutinya dengan penuh penghormatan.
Berbagai pusaka bersejarah ditampilkan dalam upacara tersebut. Di antaranya Intan Tampar Taji yang dikenal sebagai batu permata sakti dan benda pusaka legendaris. Menurut cerita turun-temurun, pusaka itu merupakan hasil melakukan Botara (bersemedi ) yang dilakukan tokoh sakti Dayak Tomun, Jajar Melahui. Selain itu terdapat pula Keris Retak Sebilan, Rangkang Sangaji Jayo, Kantung Kalis, hingga Tandu Ruso Porindun yang dipercaya sebagai jimat milik Jajar Melahui.
Albatros juga menuturkan, dalam cerita rakyat yang masih hidup saat ini, Jajar Melahui mendapat perintah Raja Banjar untuk mengambil Tubu Langsau Ruas dan Pisang Panjang Tundun di wilayah Kudangan. Tokoh tersebut dipercaya memiliki kesaktian sehingga mampu menempuh perjalanan dari Banjar menuju Kudangan hanya dalam waktu satu hari.
Selain memiliki nilai spiritual yang tinggi, Bobantan Laman juga mulai berkembang menjadi daya tarik wisata budaya. Gogo, salah seorang pengelola Desa Wisata Riam Tinggi mengatakan, upacara adat yang digelar setiap 7 Juli itu selalu menarik perhatian wisatawan karena mempertahankan tradisi yang masih asli.
"Makna Bobantan Laman adalah membersihkan kampung dari segala hal yang jahat agar masyarakat terhindar dari bencana, marabahaya, sakit penyakit, serta hidup aman, damai, dan sejahtera," ujarnya.
Menurut Gogo, pelaksanaan Bobantan Laman tahun 2026 di Desa Wisata Riam Tinggi mendapat perhatian khusus dengan hadirnya tamu mancanegara asal Jerman yang datang untuk menyaksikan langsung prosesi adat tersebut. Kehadiran wisatawan asing itu menjadi bukti bahwa kekayaan budaya Dayak Tomun memiliki daya tarik hingga ke tingkat internasional.
Melalui pelestarian Bobantan Laman, masyarakat Delang tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya Dayak Tomun kepada dunia. Tradisi yang sarat nilai spiritual, sejarah, dan kebersamaan ini diharapkan terus lestari sebagai bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Lamandau dan Kalimantan Tengah.(*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama