PANGKALAN BUN, Radarsampit.jawaspos.com - Di sebuah sudut Pangkalan Bun, mimpi-mimpi masa depan terancam padam sebelum sempat menyala. Bukan karena kemiskinan harta, melainkan karena buta aksara yang masih menghantui mereka yang seharusnya duduk di bangku sekolah.
Di bawah remang lampu meja belajar darurat, Mia Cisadani menatap tajam ke arah seorang anak yang terbata-bata mengeja huruf 'b' dan 'a'.
Jemari kecil itu bergetar, bukan karena takut, melainkan karena keputusasaan yang dipupuk selama bertahun-tahun. Bagi dunia luar, anak ini adalah murid sekolah dasar.
Baca Juga: Rekonstruksi Pembunuhan di Tewah, Tersangka Peragakan 32 Adegan Sadis
Namun di mata literasi, ia adalah narapidana di dalam sel yang dibangun dari ketidaktahuan.
Mia, sang founder Komunitas Insan Kreatif Gemilang, bukan sekadar pengajar. Dia adalah saksi mata dari sebuah tragedi senyap di Kotawaringin Barat.
Ia menyingkap tabir pahit itu, puluhan siswa SD hingga SMP masih meraba-raba di kegelapan huruf. Bahkan, ada lulusan SMK yang masih asing dengan kalimat sederhana.
Baca Juga: Buron Usai Tikam Dua Pemuda di Pesta Pernikahan, Dua Pelaku Akhirnya Dibekuk
"Kondisi ini sangat memprihatinkan. Anak-anak bukan tidak mampu belajar, tetapi banyak yang kurang mendapatkan perhatian, pendampingan, bahkan ada yang menjadi korban perundungan," ujar Mia dengan nada getir., Jumat (3/7/2026).
Angka-angka itu bicara. 20 siswa di satu SD di Arut Selatan, 7 siswa di SMP Negeri, hingga 12 siswa di SMP Kecamatan Kumai. Mereka adalah statistik yang bernapas, yang setiap hari berpura-pura mengerti di dalam kelas, hanya untuk pulang dengan rasa malu yang membakar dada.
Lebih dari sekadar kurangnya kurikulum, ada luka batin yang menganga. Perundungan menjadi tembok raksasa yang membuat semangat mereka rontok. Mereka kehilangan rasa percaya diri, merasa terasing dari dunianya sendiri.
Baca Juga: Tragis! Pengendara Motor Tewas Bersimbah Darah di Jalur Tengkorak Kobar
Di bantaran Sungai Arut, mimpi anak-anak seolah hanyut terbawa arus, tenggelam bersama ketidakmampuan mereka mengeja masa depan.
Namun, di tengah keputusasaan itu, 30 relawan, pelajar, mahasiswa, hingga buruh turun tangan.
Mereka adalah secercah harapan di tengah badai literasi. Mereka tidak hanya mengajari cara merangkai huruf, tapi juga memulung harga diri anak-anak yang hancur.
Baca Juga: Jual Sabu Paket Hemat, Warga Lamandau Dituntut 6 Tahun Penjara
"Harapan kami sederhana, tidak ada lagi anak yang tertinggal hanya karena belum bisa membaca," pungkas Mia.
Sebuah harapan yang berat, namun harus diwujudkan jika kita tak ingin membiarkan satu generasi terkubur dalam buta aksara. (*/fm)
Editor : Farid Mahliyannor