Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pendapat Ahli Gizi, Durian Tak Mengandung Kolesterol, Namun Tinggi Gula

Agus Jaka Purnama • Kamis, 25 Juni 2026 | 05:53 WIB
Dok.akbar/radarsampit)
Dok.akbar/radarsampit)

Musim durian jadi momen yang ditunggu banyak masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Selain hasil panen lokal, durian dari kabupaten tetangga pun terlihat membanjiri Kota Sampit, sepekan terakhir. Namun di balik kenikmatannya, konsumsi durian tetap perlu dibatasi, agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Terutama bagi mereka yang mengidap penyakit tertentu.

-------------------------------------

Desa Babaung di Kecamatan Pulau Hanaut, meerupakan salah satu wilayah penghasil durian lokal di Kotim. Arbatina Thinatin, salah seorang petani durian setempat mengaku saat ini panen durian di wilayah itu sedang melimpah. Buah-buah yang dipanen berasal dari kebun warga dan siap dipasarkan kepada pembeli.

"Kalau ada yang mau beli bisa langsung ke Desa Babaung. Selain itu, kalau di Samuda juga ada, lokasinya di kota sebelah hilir Masjid Jami, itu juga punya kami," ungkapnya. Hasil panennya tidak hanya dipasarkan di Kotim, tetapi juga dikirim ke sejumlah daerah tetangga, termasuk Kabupaten Seruyan.

Salah satu ciri durian lokal tersebut, rasanya sangat manis, legit, dengan daging yang tebal dan warna agak putih.

Selain Pulau Hanaut, kawasan selatan Kotim seperti Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, hingga Samuda juga dikenal sebagai "surga" bagi para pencinta raja buah tersebut. Memasuki musim panen, durian lokal mulai memenuhi lapak-lapak penjualan di Samuda, Bagendang hingga Kota Sampit.

Kemudian ada pula durian berasal dari Desa Jemaras Kecamatan Cempaga yang memiliki beberapa varietas unggulan, seperti otak udang dan mentega, yang terkenal dengan rasa legit dan tekstur lembut. Perbedaan karakter duri dan rasa menjadi ciri khas durian lokal itu, yang sulit ditiru daerah lain.

Banjirnya durian di Sampit, juga tidak sedikit yang didatangkan dari Kabupaten Lamadau dan sekitarnya, bahkan ada pedagang yang mengaku mendatangkannya dari wilayah Kalimantan Barat (Kalbar). Rasa dan teksturnya pun tak kalah bersaing dengan durian lokal Kotim, sehingga banyak juga digemari masyarakat.

Baca Juga: Anak-Anak yang Sedang Main Bola, Paskibraka, hingga Pramuka Diajak Nikmati Durian Lokal secara Gratis

Sementara itu terkait kandungan  gizi daging durian, Adminkes Ahli Pertama sekaligus Pengelola Program Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim, Multiansyah mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi durian secara berlebihan.

Menurutnya, bagi orang sehat, konsumsi sekitar dua hingga tiga biji durian ukuran sedang atau sekitar 100 hingga 200 gram daging buah dalam sekali makan masih tergolong aman dan moderat.

“Tidak ada angka yang berlaku untuk semua orang. Namun, banyak ahli gizi menyarankan sekitar dua sampai tiga biji durian ukuran sedang dalam sekali konsumsi bagi orang sehat,” ujarnya, Selasa (23/6).

Multiansyah mengungkapkan, durian mengandung karbohidrat, gula alami, dan kalori yang cukup tinggi. Karena itu, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan asupan energi harian dan berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan tertentu.

Menurutnya, kelompok yang dianjurkan membatasi konsumsi durian, antara lain penderita diabetes atau pradiabetes, penderita obesitas, hipertensi, penyakit jantung, gangguan ginjal tertentu, serta lansia yang memiliki penyakit metabolik yang belum terkontrol.

“Bagi penderita diabetes, obesitas, atau penyakit kronis lainnya, jumlah yang aman bisa lebih sedikit dan sebaiknya disesuaikan dengan anjuran tenaga kesehatan,” kata Multiansyah yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPC  Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Kotim.

Diungkapkannya pula, durian dapat meningkatkan kadar gula darah karena mengandung karbohidrat dan gula alami. Namun, dampaknya bergantung pada jumlah yang dikonsumsi dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Terkait anggapan bahwa durian dapat menyebabkan kolesterol tinggi, Multiansyah menjelaskan bahwa durian tidak mengandung kolesterol, karena merupakan buah.

Meski demikian, konsumsi berlebihan dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan gangguan metabolik yang berkaitan dengan kadar lemak darah.

Selain memperhatikan jumlah konsumsi, masyarakat juga dianjurkan mengimbanginya dengan minum air putih yang cukup, serta tetap mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

"Durian tidak dianjurkan menjadi pengganti makanan utama. Tubuh tetap memerlukan berbagai zat gizi dari sumber pangan lain agar kebutuhan nutrisi harian tetap terpenuhi," pungkas Multiansyah.

Dirinya juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti pusing, sesak napas, jantung berdebar, atau gangguan pencernaan setelah mengonsumsi durian. (oes/ktr-2/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#melimpah #ahli gizi #konsumsi #kolesterol #musim durian