Kasus bunuh diri terbilang masih marak terjadi di seputar Kalimantan Tengah (Kalteng).Fenomena itu tak bisa dianggap sederhana, sehingga harus disikapi serius oleh lintas sektor, di tengah semakin kompleksnya tekanan yang dirasakan masyarakat di masa sekarang.
-----------------
Diberitakan dalam sepekan tadi, tindakan nekat lantaran putus asa itu terjadi di Palangka Raya, dan Kotawaringin Barat. Pelakunya sebagian besar masih berusia muda.
Seperti dilakukan Muhammad Zaini, yang menenggak racun tanaman (roundap) di RT 27, Bungur, Kelurahan Baru. Berselang satu hari, Selasa 16 Juni 2026 pukul 18.00 WIB menyusul kasus serupa yang menimpa seorang wanita di di Desa Tempayung, Kecamatan Kolam, Kabupaten Kotawaringin Barat, yang nekat gantung diri dirumahnya. Sebelumnya, dua kasus gantung diri juga terjadi di Kecamatan Arut Selatan.
Namun ada juga yang gagal. Seperti kejadian di Jalan Kalimantan, Kelurahan Pahandut Palangka Raya sempat dibuat geger olah seorang pemuda inisial F (21), yang juga ingin mengakhiri hidupnya. Ia diketahui naik ke sebuah gedung sarang burung walet milik warga, Senin (15/6), pukul 21.30 WIB malam.
Beruntung, nyawa pemuda itu bisa diselamatkan warga yang berdatangan, lantaran badannya terlilit kabel. Warga sempat mengira nyawanya telah melayang.
Kapolsek Pahandut AKP Iyudi Hartanto, yang turut menerima laporan warga mengatakan berdasarkan keterangan sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi, pemuda itu ditemukan dalam kondisi terlilit kabel di gedung sarang burung walet. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya.
Baca Juga: Perempuan Hamil di MB Ketapang Dipastikan Bunuh Diri, Polisi Selidiki Motif Aksi Nekat Itu
"Awalnya dikira meninggal dunia. Namun korban ternyata selamat dan langsung mendapatkan penanganan medis dari pihak rumah sakit," ungkapnya.
Polisi pun melakukan pemeriksaan mendalam kepada pemuda itu. Seperti mengumpulkan informasi dari keluarga maupun pihak-pihak yang mengetahui kondisinya sebelum kejadian.
Setelah dinyatakan stabil dan tidak lagi memerlukan perawatan intensif, pemuda itu akhirnya diperbolehkan pulang dan kembali ke rumah keluarganya.
Kapolsek berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi psikologis anggota keluarga maupun lingkungan sekitar, terutama ketika mengetahui adanya seseorang yang sedang menghadapi tekanan hidup atau persoalan pribadi.
"Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Jika ada permasalahan, sebaiknya diselesaikan dengan cara yang baik dan melibatkan keluarga maupun pihak yang dapat membantu," imbuh Iyudi.
Menyoroti maraknya fenomena bunuh diri itu, Divisi Pelayanan Masyarakat Himpunan Psikologi (HIMPSI) Kalteng, sekaligus Psikolog di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Windarti Aji mengatakan, fenomena itu tidak bisa dipandang sebagai persoalan sederhana.
"Bunuh diri merupakan perilaku yang disebabkan ketidakmampuan seseorang dalam mengelola pikiran dan emosinya, hal ini dipicu karena adanya tekanan yang sangat kuat dan terus menerus yang tidak mampu diatasi oleh diri sendiri,” ujanyar.
Windarti menjelaskan, dalam psikologi hal-hal yang bisa menjadi alasan yang melatarbelakangi perilaku bunuh diri adalah faktor ekonomi, hubungan antar individu, pendidikan dan faktor lainnya.
Menurutnya, perilaku bunuh diri sebenarnya dapat dicegah dengan menyadari akan kondisi psikologis diri sendiri. Selain itu kepekaan lingkungan (keluarga, kerabat, teman) bisa menjadi salah satu dukungan untuk mencegah terjadinya perilaku bunuh diri.
Diakuinya, saat ini, sebagian orang masih merasa tabu atau malu untuk mengungkapkan tentang kondisi psikologisnya. Sehingga mereka tidak mau dan malu untuk memeriksakan diri dan meminta bantuan ke profesional kesehatan mental (psikolog atau psikiater). “Karena masih ada stigma bahwa kalau datang ke psikolog atau psikiater itu artinya gila,” imbuhnya.
Diungkapkan Windarti pula, perubahan perilaku anggota keluarga patut menjadi perhatian. Seperti murung sepanjang waktu, menarik diri dari lingkungan, sensitif, dan muncul ide bunuh diri.
Ia pun menegaskan,untuk menekan angka kasus bunuh diri, bisa dengan meningkatkan koordinasi antar stakeholder terkait. Seperti melakukan kegiatan sosialisasi dan skrining atau uji kesehatan mental dari level anak-anak hingga dewasa.
"Peran keluarga sangat penting dalam upaya pencegahan perilaku bunuh diri, dan menurut saya usia tidak menjadi patokan untuk melakukan bunuh diri, tapi bagaiman pola kepribadian yang terkait dengan pola pengasuhan yang dimiliki individu tersebut," pungkasnya,” pungkas Windarti. (daq/tyo/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama