Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bakal kembali menjadikan ritual Suku Dayak Agama Hindu Kaharingan berupa Tiwah dan Memapas Lewu, sebagai agenda wisata rutin setiap tahun. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya melestarikan seni budaya, melainkan untuk menarik kedatangan wisatawan.
--------------------------
Baru-baru tadi, Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan audensi bersama Bupati Kotim Halikinnor membahas agenda tersebut. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Ramadansyah mengungkapkan, dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas peluang menjadikan Tiwah dan Memapas Lewu sebagai agenda tetap daerah mulai 2027.
“Pak bupati sudah menyampaikan bahwa kegiatan Tiwah dan Memapas Lewu bisa dijadikan agenda daerah. Harapannya, mulai 2027 nanti dapat kita bahas dan ditetpakan secara lebih matang,” ujarnya.
Ramadansyah menjelaskan, jika telah menjadi agenda resmi daerah, pelaksanaan Tiwah dan Memapas Lewu nantinya tidak lagi bregantung pada dana hibah yang diberikan kepada kelompok atau komunitas tertentu.
Sebaliknya, program tersebut akan masuk dalam agenda pemerintah daerah yang dikelola secara terstruktur dan terintegrasi dengan instansi sektor pariwisata.
Ia menilai, Tiwah dan Memapas Lewu memiliki potensi besar menjadi daya tarik wisata budaya, karena tidak dimiliki daerah lain di Kalimantan Tengah dalam skala yang terjadwal dan terintegrasi.
“Ini bisa menjadi satu-satunya agenda budaya dan keagamaan yang terjadwal secara tetap di Kalimantan Tengah. Karena itu, potensinya sangat besar untuk menarik wisatawan,” paparnya.
Baca Juga: Ritual Tiwah Bisa Jadi Daya Tarik Wisata Unggulan Kotim
Ramadansyah menguraikan, Disbudpar berencana mengintegrasikan agenda tersebut dengan destinasi wisata lain di Kalimantan Tengah, seperti kawasan wisata Tanjung Puting di Kabupaten Kotawaringin Barat.
Dengan adanya jadwal pelaksanaan yang pasti, wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut dapat melanjutkan perjalanan ke Kotim, untuk menyaksikan prosesi budaya dan keagamaan khas Dayak.
“Kalau tangalnya sudah tetap, promosi akan lebih mudah dilakukan. Wisatawan yang datang ke Kalimantan Tengah bisa sekaligus mengatur kunjungan ke Sampit untuk menyaksikan Tiwah maupun Memapas Lewu,” ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan akan tetap melibatkan Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan sebagai pihak yaang memahami tata cara adat dan keagamaan. Sebab, unsur budaya dan agama dalam pelaksanaan Tiwah maupunMemapas Lewu tidak dapat dipisahkan.
Selain itu lanjut Ramadansyah, Pemkab juga tengah memastikan kesiapan sejumlah lokasi yang akan menjadi pusat kegiatan. Termasuk kawasan Kaharingan Center dan area pemakamannya yang selama ini digunakan untuk kegiatan adat dan keagamaan.
Ramadansyah optimis, agenda tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat. Kehadiran wisatawan diperkirakan dapat meningkatkan tingkat hunian hotel/penginapan. Selain itu, memperkuat sektor UMKM, serta mendorong pertumbuhan usaha jasa dan transportasi.
Ia menambahkan, momentum bertambahnya maskapai penerbangan ke Sampit, juga menjadi peluang untuk mendukung pengembangan wisata budaya di Kotim.
“Kalau ini terlaksana, maka akan menjadi agenda budaya dan keagamaan yang unik serta berpotensi menjadi satu-satunya di Kalimantan Tengah,” pungkasnya. (yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama