Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Subandi S Musan Tutup Usia, Kalteng kembali kehilangan Pendulang Medali Emas Cabor Dayung

Dodi Abdul Qadir • Senin, 15 Juni 2026 | 21:13 WIB
Subandi S Musan bersama medali yang pernah diraihnya. (istimewa)
Subandi S Musan

Dunia olahraga Kalimantan Tengah kembali berduka dengan kehilangan salah satu putra terbaiknya. Sosok pejuang lintasan air, mantan atlet internasional sekaligus pelatih bertangan dingin yang melahirkan sederet juara, Subandi S. Musan, meninggal dunia, Senin (15/6), dalam usia 61 tahun.

--------------------------

Kepergian Subandi bukan sekadar kabar duka, melainkan juga kehilangan bagi Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI). Sosok yang selama puluhan tahun menjadi penjaga tradisi emas dayung Bumi Tambun Bungai itu akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya selama tujuh bulan terakhir.

Almarhum wafat di rumah duka di Jalan Yos Sudarso V Nomor 100 A, Palangka Raya. Sebelumnya, ia sempat menjalani perawatan intensif di RS Suaka Insan, Banjarmasin, sejak 26 Desember 2025 sebelum melanjutkan pemulihan di kediamannya.

“Setelah bertahan tujuh bulan dari sakitnya, akhirnya Pak Subandi dipanggil Sang Pencipta dengan damai,” ujar Ketua KONI Kalteng Rahmat Hidayat, Senin (15/6).

Diungkapkannya, bagi insan olahraga nasional, nama Subandi S. Musan bukanlah nama biasa. Ia merupakan salah satu atlet dan pelatih yang mengangkat martabat Kalimantan Tengah hingga level dunia. Dedikasinya bahkan mendapat pengakuan resmi dari negara melalui penghargaan yang diberikan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Dalam catatan sejarah olahraga Kalteng, nama Subandi berdiri sejajar dengan para legenda yang telah mengharumkan nama Indonesia seperti Yanson di cabang dayung, serta pasangan peraih emas Olimpiade Alan Budikusuma dan Susi Susanti di cabang bulutangkis.

Baca Juga: Benson, Legenda Dayung asal Kalteng yang Pernah Juara SEA Games Tutup Usia 

Kariernya dipenuhi prestasi gemilang. Sejak era PON VIII tahun 1973, Subandi menjadi mesin emas bagi kontingen Kalimantan Tengah. Hampir di setiap ajang nasional yang diikutinya, medali emas berhasil dipersembahkan untuk daerah.

Puncak kejayaannya berlanjut pada Kejuaraan Nasional Kendari tahun 1986. Bersama rekannya Benson, ia meraih medali emas nomor Kayak-2. Prestasi itu menjadi pintu masuk menuju panggung internasional.

Selain itu lanjut Rahmat, mengenakan seragam Merah Putih, Subandi sukses mempersembahkan medali emas bagi Indonesia pada Kejuaraan Dunia Dragon Boat di Hong Kong. Ia juga berjaya pada kejuaraan internasional di Brunei Darussalam dan sejumlah kejuaraan dunia lainnya.

Namanya semakin harum ketika memperkuat Indonesia pada SEA Games 1987 Jakarta. Di hadapan publik sendiri, Subandi berhasil menyumbangkan medali emas dan mengibarkan kebanggaan bangsa di arena internasional.

Namun pengabdiannya tidak berhenti ketika pensiun sebagai atlet. Justru dari tepi sungai dan arena latihan, ia melahirkan generasi-generasi baru. Sebagai Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengprov PODSI Kalteng dan Koordinator Pelatih Dayung Kalteng dalam dua edisi PON terakhir, Subandi menjadi arsitek di balik lahirnya banyak atlet berprestasi.

“Ketegasan, disiplin, dan dedikasinya menjadi karakter yang selalu dikenang anak didiknya. Tidak mengherankan jika kabar wafatnya langsung memicu gelombang duka di berbagai grup komunitas olahraga, media sosial, hingga kalangan mantan atlet nasional,” papar Rahmat.

Sebelum berpulang, sejumlah pengurus KONI Kalteng yang dipimpin Ketua Bidang Prestasi H Sugiyanto bersama jajaran pengurus lainnya juga sempat menjenguk almarhum saat menjalani masa-masa kritis, sebagai bentuk dukungan moril dan doa.

Sementara itu, Ketua Harian KONI Kalteng Hasanuddin Noor mengungkapkan, kepergian Subandi sebagai kehilangan besar yang sulit tergantikan.

“Selamat jalan sang legenda. Engkau telah damai bersama Sang Juru Selamat. Dedikasimu yang membawakan tradisi emas bagi Kalteng dan Indonesia akan selalu hidup di tepi sungai tempat para atletmu mengayuh mimpi,” ucap Hasanuddin.

Hasanudin menambahkan, kini, sang legenda telah berpulang. Namun jejak pengabdiannya tak akan tenggelam bersama arus waktu. Nama Subandi S. Musan akan tetap hidup dalam sejarah olahraga Kalimantan Tengah, pada setiap dayung yang mengayuh air, pada setiap atlet yang mengejar podium, dan pada setiap medali yang kelak lahir dari mimpi-mimpi yang pernah ia tanamkan. ”Semoga selalu dalam karunia Tuhan,” tandasnya.(daq/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#cabang olahraga dayung #atlet #medali emas #berduka #tutup usia