Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Tradisi Dayak Tetap Hidup, Lawang Sakepeng Jadi Daya Tarik di Pesta Pernikahan

Usay Nor Rahmad • Minggu, 7 Juni 2026 | 18:41 WIB
Lawang Sakepeng, tradisi khas Suku Dayak Ngaju di Desa Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Minggu (7/6/2026). (Usay Nor Rahmad) 
Lawang Sakepeng, tradisi khas Suku Dayak Ngaju di Desa Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Minggu (7/6/2026). (Usay Nor Rahmad) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Tradisi dan budaya warisan leluhur masih terus hidup di tengah masyarakat Kalimantan Tengah.

Salah satunya adalah Lawang Sakepeng, tradisi khas Suku Dayak Ngaju yang hingga kini masih kerap ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat, termasuk pesta pernikahan.

Tradisi tersebut menjadi daya tarik tersendiri dalam resepsi pernikahan pasangan Serli Marselina dan Rizky Ramadani yang digelar di Jalan Ir H Juanda, Desa Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (7/6/2026).

Atraksi Lawang Sakepeng yang digelar di halaman acara berhasil menyedot perhatian para tamu undangan maupun warga sekitar. Sorak dan tepuk tangan penonton mewarnai jalannya pertunjukan yang menampilkan seni bela diri tradisional Dayak tersebut.

“Kami sengaja menghadirkan Lawang Sakepeng untuk hiburan bagi tamu undangan dan masyarakat. Kalau di kawasan perkotaan mungkin sudah jarang terlihat, tetapi di desa-desa tradisi ini masih sering ditampilkan dalam acara pernikahan,” ujar Kaspul Anwar, orang tua mempelai perempuan.

Lawang Sakepeng merupakan salah satu tradisi penyambutan yang sarat makna dalam budaya Dayak Ngaju. Kata lawang berarti pintu atau gerbang, sedangkan sakepeng berarti satu keping. Tradisi ini melambangkan perjuangan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik sekaligus kesiapan menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Dalam pertunjukan tersebut, para pesilat memperagakan gerakan Kuntau, seni bela diri tradisional yang berkembang di kalangan masyarakat Dayak. Gerakan yang ditampilkan terinspirasi dari kelincahan dan tingkah laku kera atau beruk.

Dua pesilat saling berhadapan di depan gapura adat untuk memutus tali yang dibentangkan sebagai simbol rintangan. Ketika tali berhasil diputus, sorak penonton pun langsung menggema di lokasi acara.

“Ini bukan pertandingan, tetapi bagian dari upaya melestarikan tradisi dan budaya. Jadi semua harus menjunjung sportivitas,” ujar pembawa acara saat atraksi berlangsung.

Menariknya, pertunjukan Lawang Sakepeng tidak hanya dimainkan oleh pesilat berpengalaman. Remaja, orang dewasa hingga para sesepuh secara bergantian turut ambil bagian menunjukkan kemampuan mereka.

“Seru melihatnya. Setiap kali pesilat berhasil memutus tali, penonton langsung bersorak. Apalagi yang tampil tadi ada yang masih pemula sampai yang senior,” kata Bahrudin, salah seorang tamu undangan.

Keikutsertaan berbagai generasi dalam pertunjukan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi Dayak masih mendapat tempat di tengah masyarakat. Selain menjadi hiburan, Lawang Sakepeng juga menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai warisan leluhur mereka.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur, tradisi Lawang Sakepeng masih sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat maupun acara keluarga. Kehadirannya menjadi simbol bahwa budaya Dayak tetap hidup dan mampu bertahan di tengah perkembangan zaman yang semakin modern. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#budaya #dayak ngaju #sampit #Lawang Sakepeng #kotim