KUALA KURUN, Radarsampit.jawapos.com – Di usianya yang telah senja, 74 tahun, Pendeta Diun F. Nusan menunjukkan bahwa tangan yang biasa terlipat dalam doa, juga harus terampil memegang cangkul.
Di Desa Tewang Pajangan, ia tidak hanya dikenal sebagai gembala jemaat di Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT) Mawar Saron, tetapi juga sebagai sosok bertangan dingin yang mampu menghidupkan tanah.
Baca Juga: Geger Siang Bolong! Ular Lidi Menyusup ke Rumah Warga, Damkar Seruyan Turun Tangan
Mimbar di Atas Tanah Satu Hektare
Bagi sebagian besar orang, pelayanan gereja berakhir ketika pintu gereja dikunci setelah ibadah Minggu. Namun bagi Pendeta Diun, pelayanannya justru berlanjut di lahan seluas satu hektare tepat di samping bangunan gereja.
Di sana, ia menyulap lahan menjadi kebun produktif yang hijau. Barisan jagung pulut, timun, hingga kacang panjang tumbuh subur, menentang anggapan bahwa masa tua adalah masa untuk berdiam diri.
"Ketahanan pangan adalah bagian dari panggilan iman. Mengelola ciptaan Tuhan agar sesama tidak mengalami kelaparan adalah tanggung jawab spiritual yang nyata," ungkapnya dengan sorot mata yang penuh semangat.
Baca Juga: Polisi Ringkus 4 Pelaku Curas dan Curanmor, Kapolres Katingan: Tak Ada Ruang bagi Kriminal
Kemandirian dan Keringat
Perjuangan ini bukan tanpa pengorbanan. Bersama sang istri, Nuriyati (68), Pendeta Diun membangun kolam dan keramba ikan menggunakan dana pribadi. Mereka tidak menunggu bantuan turun dari langit; mereka memilih untuk menanam modal dari keringat sendiri.
Kini, kolam-kolam itu tidak hanya berisi air, tapi harapan. Ikan-ikan yang dibudidayakan menjadi jawaban atas tantangan ekonomi dan kebutuhan protein bagi keluarga serta warga sekitar. Baginya, kemandirian adalah bentuk harga diri seorang umat beriman.
Baca Juga: Polda Kalteng Sikat 121 Kejahatan Jalanan, 233 Tersangka Dibekuk dalam Lima Bulan
Teologi Piring Kosong
Kisah Pendeta Diun adalah sebuah teguran lembut bagi dunia yang seringkali memisahkan agama dengan realitas sosial. Ia mempraktikkan "Teologi Piring Kosong" bahwa khotbah yang paling indah akan sulit didengar oleh perut yang lapar.
Dengan mengubah lahan gereja menjadi oase, ia memberikan tiga keteladanan sekaligus yakni, Etos Kerja: Usia hanyalah angka; kerja keras adalah bentuk ibadah. Ekologi: Menjaga dan mengolah bumi adalah mandat Ilahi. Kepedulian: Hasil bumi adalah jembatan untuk berbagi kepada jemaat dan masyarakat.
Baca Juga: Polres Seruyan Ungkap 40 Kasus Pencurian, Amankan 74 Tersangka
Harapan yang Tumbuh
Ayah dari tujuh anak ini kini berharap langkah kecilnya di Desa Tewang Pajangan dapat didukung lebih luas oleh pemerintah. Ia memimpikan bibit-bibit baru, baik bibit ikan maupun sayuran untuk memperluas manfaat oase yang ia bangun.
Di akhir hari, saat matahari terbenam di ufuk Kabupaten Gunung Mas, Pendeta Diun mungkin tidak selalu berada di balik mimbar yang megah. Namun, melalui jagung yang menguning dan ikan yang melompat di kolamnya, ia telah mewartakan kebaikan Tuhan dengan cara yang paling nyata: memberi makan kehidupan.
Baca Juga: Apes! Gegara Simpan Sabu Milik Rekan, Pria di Sampit Ini Malah Diciduk Polisi
"Sebab seperti tanah menumbuhkan tunas-tunasnya, demikianlah iman harus menumbuhkan kesejahteraan bagi sesama," tukasnya. (arm/fm)
Editor : Farid Mahliyannor