Kegiatan Pemasangan kontrasepsi implan oleh petugas DP3AP2KB Kotim, sekaligus rangkaian kegiatan deteksi dini gejala penyakit kanker serviks di Kecamatan Cempaga, Jumat (24/4).
Kanker serviks paling umum menyerang kaum wanita, akibat infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV) tipe 16 dan 18. Penyakit ini berkembang lambat, sering tanpa gejala tahap awal, dan berisiko tinggi pada usia 35-44 tahun atau mereka yang aktif secara seksual di usia muda. Pencegahan terhadap penyakit ini juga gencar dilakukan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), melalui layanan Keluarga Berencana (KB).
----------------------------
Momentum peringatan Hari Kartini ke 147 di bulan April 2026, dimanfaatkan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), untuk mendeteksi dini gejala penyakit kanker tersebut, khusus di Kecamatan Cempaga, Jumat (24/4).
Aksi yang juga melibatkan anggota Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kotim, dan TP-PKK Kotim, itu menyasar puluhan wanita.
Pendeteksian dilakukan dengan layanan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kotim. Dipadukan dengan tes HPV, serta pemasangan alat kontrasepsi keluarga berencana (KB).
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat), merupakan metode skrining kanker serviks cepat, terjangkau, dan efektif dengan mengoleskan asam asetat (cuka dapur 3-5%) ke leher rahim untuk mendeteksi sel pra-kanker.
Jika hasil positif, sel abnormal akan berubah warna menjadi putih (asetowhite), yang menandakan perlunya tindak lanjut medis.
Sementara tes HPV (sering disebut tes HPV DNA), adalah prosedur pemeriksaan medis untuk mendeteksi keberadaan virus Human Papillomavirus tipe risiko tinggi pada serviks (leher rahim) yang dapat menyebabkan kanker. Tes ini bertujuan untuk mendeteksi infeksi virus secara dini sebelum sel-sel serviks berubah menjadi kanker.
“Kegiatan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap ksehatan perempuan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan. Perhatian terhadap kesehatan perempuan adalah bagian penting dari pemberdayaan itu sendiri. Kami ingin memastikan perempuan memiliki akses layanan kesehatan yang mudah, terjangkau, bahkan gratis,” ujar Wakil Bupati Kotim, Irawati yang turut hadir.
Baca Juga: Sacha Inchi, Super Food untuk Pengobatan Kanker Serviks
Diungkapkannya, masih banyak perempuan yang enggan melakukan pemeriksaan IVA karena rasa malu, padahal deteksi dini sangat penting untuk mencegah penyakit serius seperti kanker serviks.
“Banyak yang masih malu, padahal ini penting. Kalau ke dokter kandungan biayanya bisa sampai jutaan rupiah, sementara di sini kita sediakan secara gratis. Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Ketika itu, Irawati juga mengajak istri kepala desa, untuk menjadi pelopor dalam memanfaatkan layanan tersebut sekaligus mengedukasi masyarakat di wilayah nya.
“Kami berharap ibu-ibu kepala desa bisa menjadi contoh. Gunakan kesempatan ini, dan ajak masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan sejak dini. Jika ada masalah, bisa segera ditangani,” imbuhnya.
Pada pemeriksaan IVA tersebut, target sebanyak 30 orang masih belum tercapai. Oleh karena itu, pihaknya mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan serupa, ke depannya
Menurut Kepala DP3AP2KB) Kotim Achmad Yusi kegiatan tersebut juga dirangkai pemasangan kontrasepsi implan kepada 30 akseptor.“Seluruh akseptor berasal dari Kecamatan Cempaga, dan semuanya menggunakan metode implan dengan masa efektif hingga tiga tahun,” jelasnya.
Menurutnya, metode kontrasepsi jangka panjang seperti implan menjadi pilihan yang efektif dalam mendukung program pengendalian penduduk sekaligus memberikan kenyamanan bagi perempuan.
“Implan ini aman, praktis, dan efektif untuk jangka waktu yang cukup panjang. Inj juga bagian dari upaya kita dalam meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi perempuan,” ujarnya.
Yusi menambahkan, momentum Hari Kartini diharapkan dapat menjadi pengingat pentingnya peran perempuan dalam menjaga kesehatan diri dan keluarga.
“Perempuan yang sehat adalah pondasi keluarga yang kuat. Melalui kegiatan ini, kita ingin membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan bkuan sekadar kebutuhan, tetapi juga bentuk investasi masa depan,” pungkasnya. (yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama