Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Perjuangan Warga Kelurahan Raja Seberang, ketika Mengantar Orang Sakit. Akses Darat Terbatas, Andalkan Perahu Getek

Koko Sulistyo • Minggu, 29 Maret 2026 | 22:00 WIB

Petugas PMI Kobar dan warga saat mengangkat warga yang sakit keras dari Kelurahan Raja Seberang menuju mobil ambulans di Kelurahan Baru dengan menyeberang sungai Arut, Minggu (29/3).
Petugas PMI Kobar dan warga saat mengangkat warga yang sakit keras dari Kelurahan Raja Seberang menuju mobil ambulans di Kelurahan Baru dengan menyeberang sungai Arut, Minggu (29/3).

Nasib warga di bantaran sungai yang minim akses jalan darat seringkali menghadirkan pemandangan yang memilukan.Terutama ketika situasi darurat. Contohnya  ketika ada warga yang harus segera mendapatkan pertolongan medis di fasilitas kesehatan.

---------------------------------

Minggu siang (29/3), matahari bersinar terik di langit Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat. Panasnya memantul di aliran sungai Arut yang membelah Kelurahan Raja  Seberang di bantaran sungai terpanjang di wilayah tersebut.

Dari kejauhan, serombongan warga terlihat turun dari atas jembatan sederhana menuju lanting (jamban) yang ditepinya tertambat perahu kecil (getek). Selembar kasur kapuk, di atasnya nampak terbaring salah satu warga yang sakit keras, diangkat beramai-ramai. Tubunya yang dibalut kasur itu, perlahan diletakan di atas perahu yang sudah menunggu.

Itulah potret sebuah peristiwa Kedaruratan kesehatan yang terjadi permukiman ujung Kelurahan Raja Seberang. Di tengah minimnya akses jalan,  satu-satunya cara paling cepat agar si sakit mendapat pelayanan medis di rumah sakit adalah dengan melalui transportasi air.

Sementara itu, di seberang daratan yang masuk wilayah administratif Kelurahan Baru, mobil ambulans milik Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kobar sudah menunggu dengan sejumlah relawan yang siap menyambut si sakit dari seberang sungai.

Bukan persoalan gampang, para relawan PMI dan warga sebelum mencapai mobil ambulans juga harus melewati jalan kecil, lantaran mobil ambulans tidak bisa mencapai bibir sungai. 

Informasinya warga yang sakit itu berdomisili di RT 05, Kelurahan Raja Seberang. Pasien itu dalam kondisi tidak sadarkan diri dan bila dibawa ke rumah sakit menggunakan kendaraan roda dua tidak memungkinkan.

Hambatannya, selain jauh, jembatan di permukiman sangat sempit dan jauh menuju rumah sakit karena harus memutar melalui jalan Ahmad Shaleh ruas jalan  Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama.

Warga Raja Seberang, Syahdu berharap agar infrastruktur jalan dan jembatan dapat diperhatikan, dan jika ada kedaruratan kesehatan maka warga dapat dilayani dengan cepat.

"Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengambil kebijakan. Kasihan warga kami bila sakit keras harus melalui sungai sebelum sampai ke ambulan yang menunggu di seberangnya. Kalau ada jembatan tentu lebih mudah," harapnya.

Kepala Markas PMI Kabupaten Kotawaringin Barat Aio Tanoto mengungkapkan, untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, medan sesulit apapun akan mereka tempuh. "Selama 2025 saja kami telah melayani sebanyak seribu lebih penerima manfaat, dengan berbagai medan yang kami tempuh," bebernya.

Ia menjelaskan, a PMI Kabupaten Kotawaringin Barat mempunyai layanan posko 24 jam, untuk pelayanan ambulan dan bagi warga yang membutuhkan tidak dipungut biaya atau gratis.

Menurutnya, sudah saatnya Kabupaten Kotawaringin Barat memiliki publik service center agar masyarakat luas dapat mengakses layanan kesehatan, seperti di luar negeri publik service center yaitu  911.

"Harapannya warga kobar bisa mengakses fasilitas kesehatan dengan mudah apabila kita mempunyai Sistem Penanganan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)," pungkas Aio Tanoto. (*/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#sungai arut #Kotawaringin Barat (Kobar) #kelurahan #Pangkalan Bun #pertolongan medis #orang sakit #arut selatan #mobil ambulans #getek #pmi