Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Tokoh pelestarian orangutan ternama, Profesor Biruté Mary Galdikas meninggal dunia pada Selasa (24/3/2026) pukul 04.30 waktu Los Angeles, Amerika Serikat. Sosoknya tak lepas dari eksistensi Taman Nasional Tanjung Puting, yang menjadi salah satu magnet kunjungan wisatawan mancanegara ke Kalimantan Tengah (Kalteng).
_________________________
Kepergian Presiden Orangutan Foundation International (OFI) itu, menjadi kehilangan besar, bagi upaya pelestarian orangutan di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya di Kotawaringin Barat.
Gelar profesor diraihnya di Universitas Simon Fraser di Burnaby, British Columbia, dan Profesor Luar Biasa di Universitas Nasional di Jakarta, Indonesia.
Semasa hidupnya di Kalteng, Prof. Biruté dikenal luas sebagai sosok yang mendedikasikan diri untuk perlindungan orangutan, terutama di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat.
Kiprahnya selama puluhan tahun telah memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian habitat satwa endemik tersebut sekaligus mengangkat nama daerah di kancah internasional.
Dilansir dari wikipedia; Birute Mary Galdikas kelahiran 10 Mei 1946, adalah ahli primatologi, aktivis pelestarian alam, dan penulis dari beberapa buku mengenai ancaman kepunahan orangutan khususnya orangutan Kalimantan.
Berkat dedikasinya, wanita ini pernah mendapatkan penghargaan kalpataru dari Pemerintah Indonesia untuk usahanya di bidang pelestarian alam. Berangkat dari penelitiannya lah, banyak ilmuwan lebih banyak mengenal mengenai spesies orangutan.
Galdikas terus menghasilkan banyak kontribusi yang tak ternilai bagi pemahaman ilmiah tentang keanekaragaman hayati Indonesia secara keseluruhan, sekaligus membawa orangutan ke perhatian seluruh dunia.
Kehadirannya di Kalimantan sejak usia 25 tahun, untuk memulai studi lapangan tentang orangutan di lingkungan hutan yang sangat tidak ramah bagi kebanyakan orang dari negara barat.
Saat tiba di Kalimantan, Galdikas tinggal dalam kemah primitif yang sangat sederhana dan menamakan tempat tinggalnya sebagai "Kemah Leakey", dekat dengan Laut Jawa. Saat berada di sana ia menemukan berbagai serangga pemakan daging dan lintah penghisap darah.
Walaupun begitu ia tetap teguh dan tinggal di sana selama 30 tahun sembari menjadi advokasi mengenai orangutan dan pelestarian hutan hujan tempat mereka tinggal.
Upaya pelestarian Galdikas akhirnya menuju rehabilitasi untuk banyak orangutan yang kemudian menjadi yatim piatu dan dirawat olehnya. Hal ini dikarenakan banyak orangutan yang awalnya adalah binatang peliharaan ilegal menjadi terlalu pintar dan terlalu sulit untuk dirawat oleh pemiliknya.
Kini sosok sang profesor telah tiada. Namun warisannya mengenai konservasi primata dan pelestarian hutan hujan, terus-menerus berlanjut. Dirinya menyusul suaminya yang biasa disapa Pak Bohap, seorang petani dari suku Dayak, dan direktur program orangutan di Kalimantan.
Dia juga telah menulis beberapa buku, termasuk sebuah memoar, yang ditulis lama setelah rekan-rekannya "Angels" menerbitkan karya mereka yang berjudul Reflections of Eden.
Di dalamnya, Galdikas menggambarkan pengalamannya di Camp Leakey dan upaya untuk merehabilitasi orangutan bekas tawanan dan melepaskannya ke hutan hujan Kalimantan.
Sementara itu, Direktur OFI, Dorprawati Siburian menyampaikan, jenazah almarhumah akan dibawa ke Indonesia sesuai dengan amanah semasa hidupnya. Keinginan tersebut menjadi simbol kuat kecintaan Prof Biruté terhadap tanah Kalimantan yang telah menjadi bagian besar dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya.
Saat ini, pihak keluarga dan yayasan masih menunggu proses administrasi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amerika Serikat, agar pemulangan jenazah dapat berjalan lancar.
“Jenazah Prof. Biruté akan dibawa ke Indonesia. Kita menunggu pengurusan administrasi di KEDUBES RI di Amerika, semoga semua proses dapat segera diselesaikan,” ujarnya.
Rencananya, almarhumah akan dimakamkan di Pangkalan Bun, berdampingan dengan mendiang suaminya, Bohap, asal Desa Pasir Panjang, Kotawaringin Barat.
Kabar wafatnya tokoh konservasi ini pun dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial. Banyak pihak menyampaikan duka cita serta mengenang jasa-jasanya dalam menjaga keberlangsungan Taman Nasional Tanjung Puting sebagai salah satu pusat konservasi orangutan dunia.
Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah, turut menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian Prof. Biruté. Dalam apel gabungan bersama ASN di halaman kantor bupati, ia menegaskan bahwa almarhumah merupakan sosok berjasa besar yang telah membawa nama daerah dikenal luas hingga mancanegara.
Pemerintah daerah pun kini menunggu kepastian jadwal kedatangan jenazah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pahlawan konservasi tersebut. (*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama