Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Menjaga Hangatnya Suasana Idulfitri Bersama Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan

Usay Nor Rahmad • Jumat, 20 Maret 2026 | 15:55 WIB

Buka bersama Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di Sampit.
Buka bersama Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di Sampit.

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mudik. Sebagian harus tetap berada di tanah rantau karena alasan pekerjaan hingga keterbatasan waktu.  Meski begitu, suasana Lebaran tetap bisa dirasakan melalui kebersamaan dengan sesama perantau yang telah menjadi keluarga di tempat tinggal mereka sekarang.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur, misalnya, banyak perantau yang memilih merayakan Idulfitri di Sampit karena tidak dapat pulang ke daerah asal. Mereka tetap menjaga tradisi silaturahmi dengan saling mengunjungi dan berkumpul bersama saat hari raya.

Ketua Badan Pengurus Daerah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Kotawaringin Timur Zainuddin mengatakan, mudik sebenarnya sudah menjadi tradisi kuat bagi masyarakat yang berasal dari Sulawesi Selatan. Setiap tahun, banyak perantau yang berusaha pulang untuk merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.

“Pada dasarnya masyarakat Bugis, khususnya para perantau dari Sulawesi Selatan, memang terbiasa mudik menjelang Lebaran. Karena di kampung masih ada orang tua dan saudara-saudara,” ujarnya.

Bagi mereka yang tetap berada di perantauan, kebersamaan dengan sesama perantau menjadi cara untuk tetap merasakan hangatnya suasana Idulfitri. 

“Bagi yang tidak mudik biasanya saling mengunjungi dan halal bihalal di tempat masing-masing,” katanya.

Tradisi saling berkunjung tersebut dilakukan di berbagai wilayah tempat tinggal para perantau di Kotawaringin Timur, seperti di Desa Lampuyang, Sungai Ijum Raya, Parenggean, hingga di Kota Sampit.

Melalui kegiatan sederhana tersebut, suasana Lebaran tetap terasa meski jauh dari kampung halaman.

Zainuddin yang juga anggota DPRD Kotawaringin Timur mengaku tahun ini dirinya termasuk salah satu perantau yang tidak pulang kampung dan memilih merayakan Lebaran di Sampit.

“Saya dan beberapa rekan juga tetap di sini,” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah para perantau yang mudik kembali ke Sampit, rencananya akan digelar kegiatan halal bihalal sebagai ajang mempererat silaturahmi antar sesama perantau.

“Nanti setelah teman-teman kembali dari mudik, kami akan mengadakan halal bihalal. Waktu dan tempatnya akan ditentukan,” jelasnya.

Bagi para perantau, kebersamaan dengan komunitas di tanah rantau memiliki makna yang sangat penting, terutama saat hari raya. Meski jauh dari keluarga di kampung halaman, suasana Lebaran tetap dapat dirasakan melalui silaturahmi dan kebersamaan.

Di tanah rantau, teman dan sesama perantau sering kali menjadi keluarga baru yang saling menguatkan. Kebersamaan itulah yang membuat hangatnya Lebaran tetap terasa, meski tidak semua orang bisa pulang kampung. (oes/yit)

Editor : Heru Prayitno
#lebaran #sampit #perantauan