SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Menjelang Hari Raya Idulfitri, aroma kue kering tercium dari dapur-dapur rumahan. Di tengah kesibukan itu, ada kisah tentang ketekunan dan hobi yang berbuah rezeki.
Salah satunya datang dari Noordestiani, pelaku usaha kue kering rumahan dengan brand jajanyuk.id_bynunuy.
Sejak 2019, perempuan ini menekuni dunia baking yang awalnya hanya sebatas hobi. Siapa sangka, kegemaranya mengolah adonan justru berkembang menjadi sumber penghasilan tambahan.
“Awalnya memang karena suka baking, lama-lama jadi sampingan yang menghasilkan,” ujarnya.
Nama brand yang ia pilih pun bukan tanpa makna. jajanyuk.id_bynunuy dibuat dengan harapan menarik minat pelanggan sekaligus 'mengajak' orang untuk brebelanja produk yang ia tawarkan.
Di dapurnya, berbagai kue kering khas Lebaran diproduksi, seperti nastar, putri salju, kue kacang, thumbprint stroberi hingga kastengel.
Dari sekian banyak varian, nastar dan putri salju menjadi primadona yang paling banyak diburu pelanggan.
Memasuki awal Ramadan, pesanan mulai berdatangan, terutama untuk paket hampers yang biasanya dikirim kepada keluarga dan kerabat. Tahun ini, ia mengaku terjadi peningkatan omzet dibanding hari biasa.
Bahkan, menjelang pertengahan Ramadan 2026, pesanan sudah dtutup karena kapasitas produksi yang terbatas.
“Open order kita biasanya mulai awal Ramadan, tapi tahun ini sudah kita tutup dari beberapa hari yang lalu, karena pesanan cukup banyak,” katanya.
Dalam satu musim Lebaran, kebutuhan bahan baku pun meningkat signifikan. Noordestiani mengungkapkan, setidaknya 20 kilogram mentega telah dihabisi kan untuk memenuhi pesanan pelanggan.
Untuk menjaga kualitas, ia memilih menggunakan bahan baku premium. Menurutnya, hal ini sesuai dengan harga yang ditawarkan, yakni berkisar antara Rp45 ribu hingga Rp150 ribu per hampers kue kering.
Ia juga memastikan setiap proses, mulai dari pembuatan hingga pengemasan, dilakukan secara detail agar produk tetap terjaga kualitasnya.
“Pengemasan juga kita buat semenarik mungkin, tapi tetap aman sampai ke tangan pembeli,” tambahmya.
Mayoritas pelanggan membeli kue kering untuk konsumsi pribadi maupun dibagikan kepada sanak saudara saat Lebaran. Tak heran, permintaan meningkat tajam menjelang hari raya.
Meski demikian, usaha ini bukan tanpa tantangan. Salah satu kebdala yang dihadapi adalah ketersediaan bahan baku.
Banyaknya pelaku usaha serupa di daerah membuat Noordestiani harus cermat dalam menyiapkan stok agar produksi tetap berjalan lancar.
Saat ini, seluruh proses produksi masih dilakukan di rumahnya di kawasan Jalan Pelita Barat, Perumahan Grand Pelita.
Dengan modal awal sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, usaha kecil ini perlahan terus berkembang.
Ke depan, ia berharap usahanya bisa semakin besar dan menjafngkau lebih banyak pelanggan. “Semoga bisa terus berkembang dan punya lebih banyak pelanggan lagi,” harapnya.
Dari dapur sederhana, kue-kue kering itu tak hanya menghadirkan rasa manis di meja Lebaran, tetapi juga menjadi bukti bahwa hobi ynag ditekuni dengan serius mampu membuka peluang usaha yang menjanjikan. (yn)
Editor : Slamet Harmoko