Di balik tembok tinggi dan kawat berduri Lapas Kelas IIB Sampit, mereka yang menjadi warga binaan mendapatkan bimbingan spiritual secara rutin. Aktivitas itu sebagai kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat di masyarakat kelak.
-----------------
Suara adzan berkumandang dari Masjid At-Taubat di dalam lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit. Perlahan, para warga binaan, (khusus pria beragama Islam) melangkah menuju tempat ibadah itu. Dari balik jeruji dan tembok tinggi lapas, mereka berbaris rapi, bersiap melaksanakan salat berjemaah.
Berada di dalam masjid, suasana yang biasanya identik dengan keterbatasan itu berubah menjadi lebih tenang. Para warga binaan duduk bersaf, menunggu imam memulai dan memimpin salat. Raut-raut wajah yang sebelumnya dipenuhi berbagai persoalan hidup, sejenak menundukan kepala, larut dalam kekhusyukan ibadah.
Kegiatan salat berjemaah ini menjadi rutinitas bagi warga binaan muslim di Lapas Sampit. Selain menjalankan kewajiban sebagai umat muslim. Terutam selama bulan Ramadan ini, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan kepribadian yang terus didorong oleh pihak lapas.
Di Masjid At-Taubat ini, para warga binaan tidak hanya belajar memperbaiki hubungan dengan Tuhan sang pencipta, tetapi juga belajar menata kembali diri pribadi mereka. Ibadah berjamaah itu pun menjadi momen untuk menenangkan pikiran, melakukan introspeksi, serta menumbuhkan harapan akan kehidupan yang lebih baik setelah menjalani sanksi hukum sebagai warga binaan.
Para jemaah warga binaan juga sesekali mendapatkan siraman rohani singkat, di sela melaksanakan salat berjamaah.
Menurut Kepala Lapas Kelas IIB Sampit Muhammad Yani, pembinaan keagamaan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter warga binaan. Melalui kegiatan ibadah berjamaah, warga binaan diharapkan dapat memperkuat iman dan memperbaiki diri selama berada di dalam lapas.
“Melalui kegiatan seperti ini kami ingin memberikan ruang bagi warga binaan untuk memperbaiki diri. Harapannya, ketika mereka kembali ke masyarakat nanti, mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat,” ujarnya.
Bagi sebagian warga binaan, momen salat berjemaah menjadi waktu yang paling menenangkan. Di tengah keterbatasan ruang gerak, mereka menemukan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus membangun harapan baru.
Sementara itu, khusus bagi warga binaan perempuan. Dalam bulan Ramadan ini juga mendapatkan bimbingan spriritual berupa pembelajaran membaca Iqro dan Alquran.
Pembelajaran berlangsung dengan bimbingan tenaga pengajar dari Kementerian Agama Kabupaten Kotim. Warga binaan yang masih tahap awal dibimbing membaca Iqro, sedangkan yang sudah mampu membaca Alquran diarahkan untuk memperbaiki tajwid dan kelancaran bacaan.
Selain pembelajaran membaca Alquran, kegiatan juga diisi dengan tausiyah bertema peningkatan amalan selama Ramadan. Materi yang di sampaikan menekankan pentingnya memperbanyak ibadah, menjaga sikap, serta memperkuat kualitas spiritual sebagai bekal menjalani kehidupan di masa depan.(*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama