Di tepi Jalan Tjilik Riwut Km 0,5 Kasongan, berdiri sebuah bangunan yang mungkin sekilas tak terlalu mencuri perhatian. Cat dindingnya tampak mulai memudar, arsitekturnya mengingatkan pada bangunan lama yang telah menjadi saksi perjalanan waktu.
===================
Dari luar, Masjid Ainul Yaqin yang dibangun oleh yayasan amalbakti muslim Pancasila ini terlihat sederhana, bahkan terkesan usang.
Namun begitu melangkah masuk ke dalamnya, suasananya justru terasa berbeda. Lantai masjid tampak bersih, udara di dalamnya sejuk, dan ketenangan langsung terasa.
Masjid Ainul Yaqin bukan sekadar tempat ibadah bagi warga sekitar. Di bulan Ramadan, bangunan sederhana ini berubah menjadi tempat singgah bagi para musafir yang melintasi jalur utama Palangka Raya–Sampit.
Ada yang datang sekadar beristirahat, menunaikan salat, bahkan mencari tempat berlindung sementara saat perjalanan membawa mereka pada keadaan yang tak terduga.
Sore itu udara Kasongan terasa cukup panas. Lantunan ayat suci Alquran terdengar merdu dari dalam masjid, bersahut dengan suara anak-anak yang sedang belajar mengaji. Di luar, kendaraan terus melintas di jalan raya yang tak pernah benar-benar sepi.
Beberapa truk terlihat berhenti di pinggir jalan. Para sopir dan penumpangnya turun, berjalan menuju area masjid.
Sebagian mencuci kaki dan tangan, sebagian lagi duduk bersandar di teras.
Ada pula yang merebahkan badan di sudut teras samping yang agak tertutup, memanfaatkan waktu untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan panjang.
Di antara para musafir yang singgah, ada seorang pria bernama Ilan Puryadi (46). Warga Surabaya itu mengaku sudah hampir 20 hari tinggal sementara di Masjid Ainul Yaqin.
Kisahnya bermula dari sebuah harapan. Ilan nekat berangkat dari Pulau Jawa dengan menumpang truk tronton milik rekannya.
Ia datang ke Kasongan setelah mendengar kabar adanya peluang pekerjaan. Namun, realita berkata lain.
Setibanya di Kasongan, pekerjaan yang ia cari ternyata tidak ada. Bekal yang dibawanya pun perlahan habis. Dalam kondisi serba terbatas, Ilan akhirnya menjadikan Masjid Ainul Yaqin sebagai tempat berteduh sementara.
Beruntung, pengurus masjid menyambutnya dengan baik.
Terlebih selama Ramadan, masjid tersebut menyediakan makanan gratis bagi para musafir yang singgah untuk berbuka puasa.
“Saya sudah minta izin pengurus masjid untuk bisa tidur di sini. Ternyata mereka sangat baik, bahkan menawarkan makanan gratis saat berbuka,” kata Ilan, Senin (9/3/2026).
Selama berada di masjid, Ilan tidak hanya berdiam diri. Sambil terus berusaha mencari pekerjaan, ia turut membantu marbot melakukan berbagai pekerjaan ringan, mulai dari menyapu halaman hingga mengepel lantai masjid.
Bagi Ilan, tempat itu bukan sekadar tempat berteduh. Di sanalah ia menemukan kepedulian dari orang-orang yang bahkan sebelumnya tak pernah ia kenal.
Letak Masjid Ainul Yaqin yang tepat di pinggir jalan raya juga membuatnya kerap menjadi tempat persinggahan para pengendara jarak jauh. Sopir truk, sopir travel, hingga pengendara motor sering berhenti sejenak untuk beristirahat.
Seperti yang dirasakan Iyan (55), seorang sopir travel yang sore itu tengah mengantar penumpang dari Palangka Raya menuju Sampit. Ketika waktu magrib hampir tiba, ia memilih singgah di masjid tersebut untuk beristirahat sekaligus menunaikan salat.
Tak hanya itu, ia dan para musafir lainnya juga disambut dengan hidangan berbuka puasa yang telah disiapkan oleh yayasan pengelola masjid.
“Kalau lewat sini saat waktu magrib, kami biasanya singgah. Selain bisa salat, sering juga dapat makanan berbuka. Sangat membantu bagi kami yang sedang di perjalanan,” ujarnya.
Masjid Ainul Yaqin sendiri memiliki sejarah panjang. Rumah ibadah itu diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada tahun 1997.
Sejak saat itu, masjid tersebut tak hanya menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat Kasongan, tetapi juga menjadi tempat persinggahan bagi para musafir yang melintasi jalur utama di wilayah tersebut.
Di bulan Ramadan, suasana kebersamaan terasa semakin kuat. Setiap sore menjelang magrib, pengurus masjid menyiapkan hidangan berbuka bagi jamaah dan para musafir yang datang.
Di bangunan sederhana di tepi jalan itu, orang-orang yang tengah menempuh perjalanan panjang menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat singgah.
Mereka menemukan ruang untuk beristirahat, berbagi cerita, dan merasakan hangatnya kepedulian sesama. Sebuah tempat di mana lelah perjalanan sejenak terhenti, dan harapan kembali tumbuh. (ktr-3/sla)
Editor : Slamet Harmoko