Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Suasana Ramadan di Pondok Pesantren Al Marhamah Sampit. Fokuskan Pembelajaran kepada Santri Kelas Akhir

Radar Sampit • Minggu, 1 Maret 2026 | 22:15 WIB

: Suasana santri Pondok Pesantren Al Marhamah Sampit, saat menjalankan salah satu ibadah Ramadan Senin (23/2/2026).
: Suasana santri Pondok Pesantren Al Marhamah Sampit, saat menjalankan salah satu ibadah Ramadan Senin (23/2/2026).

Santri kelas akhir  di pesantren ini, diperlakukan berbeda selama Ramadan. Mereka tak dipulangkan ke rumah keluarga lebih awal, seperti adik kelasnya. Puluhan santri yang segera lulus ini, dibekali ekstra ilmu keagamaan agar siap menyiarkan agama Islam di masyarakat.

------------------------------------

Pondok Pesantren Al Marhamah saat siang di bulan Ramadan ini, nampak sepi tak ada aktivitas saat siang hari. Lokasi di pinggiran perkotaan, di Jalan Ir Soekarno KM 8 (Lingkar Utara), Kecamatan Baamang, membuat suasana pondok jauh dari keramaian kendaraan.

Ketika suara adzan dzuhur berkumandang dari Masjid Jami Zainul Anwar, santri putra terlihat keluar satu per satu dari bangunan ruang asrama berwarna hijau terang. Mereka pun menunaikan ibadah wajib salat dzuhur berjamaah.

Suasana pondok yang tadinya hening, kembali ramai dengan lantunan ayat suci Alquran. Beberapa santri laki-laki duduk berkelompok memenuhi masjid, mengaji quran selepas salat dzuhur.

Selama Ramadan, aktivitas santri berjalan dalam ritme ibadah yang ketat sejak dini hari hingga malam. Kegiatan dimulai dengan sahur bersama, dilanjutkan pembacaan tarhim saat imsak, salat subuh berjamaah, wirid, dan halaqah Alquran. Setelah waktu syuruq berakhir, santri melaksanakan salat dhuha dan kemudian beristirahat.

Siang hingga sore diisi dengan salat zuhur dan asar berjamaah, dzikir sore, serta pembacaan Surah Yasin, Al-Waqiah, Al-Fattah, dan Al-Mulk. Santri juga mempelajari Kitab Risalah hingga pukul 16.00 WIB.

Menjelang berbuka, santri mengikuti dzikir dan wirid, membaca Yasin, Ratibul Haddad, tahlil, serta doa termasuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia.

Kemudian, sore menjelang berbuka puasa para santri semangat membantu mempersiapkan hidangan berbuka puasa. Menu berbuka disiapkan oleh tim dapur pesantren, seperti bubur ayam, kurma, dan minuman segar. Setelah salat magrib berjamaah dan makan malam, kegiatan dilanjutkan salat Isya, salat tarawih 23 rakaat, dan tadarus Alquran.

Selama Ramadan, pembelajaran difokuskan kepada santri kelas akhir, yakni kelas 3 SMP dan 3 SMA. Sekitar 60 santri tingkat akhir tetap tinggal di pesantren selama bulan puasa. Tujuannya agar mereka memiliki bekal keilmuan saat kembali ke masyarakat. Santri kelas 1 dan 2 SMP dan SMA diliburkan mulai 15 Februari - 29 Maret 2026. Sedangkan, santri kelas 3 SMP dan 3 SMA diliburkan pada 25 Februari-29 Maret 2026.

Mereka yang tinggal, dibimbing mengulang kembali praktik ibadah seperti tata cara wudu dan salat, membaca Alquran, adzan, hingga fardu kifayah seperti pengurusan jenazah.

Harapannya santri yang keluar dari pondok mampu memimpin dan mengisi langgar atau masjid di kampungnya.Selain itu, pembelajaran juga menekankan pemahaman fiqih, tauhid, akhlak, dan tasawuf, termasuk makna sahur sebagai amalan yang penuh keberkahan.

Tak jauh dari masjid, ada kediaman Ketua Yayasan Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Marhamah, Muhammad Zaini Anwar. Ia mempersilahkan radar sampit masuk ke ruangan tamu, yang dihiasai pajangan foto sejumlah ulama besar itu.

Dirinya mengisahkan sejarah pendirian Panti Asuhan dan Ponpes Al Marhamah yang mulanya didirikan oleh ayahandanya, KH Khairul Anwar bin H Abdul Hamid. Berawal dari gagasan ingin menyalurkan amanah zakat para jemaah kalangan pedagang secara tepat sasaran, khususnya bagi anak yatim dan piatu.

Sejak tahun 1992, panti asuhan mulai berdiri di atas tanah pinjaman dari salah satu jemaah di Jalan Tjilik Riwut. Kemudian pada tahun 2001 berdiri Pondok Pesantren Al Marhamah di Jalan Tjilik Riwut yang kini dikhususkan sebagai asrama putri. Sementara, Ponpes Al Marhamah santri putra didirikan tahun 2018 dan mulai beroperasi Juli 2019. Saat ini, jumlah santri mencapai 405 orang, terdiri dari 127 santri laki-laki dan 278 santri perempuan yang menempati asrama terpisah di Jalan Tjilik Riwut.

Berbekal keilmuan yang dimiliki, dari keenam anak almarhum KH Khairul Anwar, Zaini sebagai anak keempat dipercaya meneruskan kepemimpinan ayahandanya mengurus Ponpes Al Marhamah. Pria ramah senyum ini  pernah di Ponpes Gontor Ponorogo pada tahun 2002 hingga 2006. Kemudian, mengabdi selama dua tahun di pesantren tersebut.

Dirinya kemudian mengikuti tes muqabalah (seleksi ujian wawancara) di Kampus Islamic University of Madinah. Ponpes Gontor saat itu membuka kesempatan untuk umrah bersama sebagai salah satu syarat mengikuti ujian. Tahun 2007 ia berangkat umrah saat Ramadan bersama delapan peserta lainnya. 

Setahun kemudian, namanya, diterima sebagai penerima beasiswa di University of Madinah.

"Dari 50 peserta Indonesia yang ikut tes, hanya dua saja yang lulus. Saya dan Haidir teman saya. Awalnya saya juga tidak menaruh harapan tinggi, tetapi Abah yang meyakini kalau saya bisa lulus. Inilah bukti doa orang tua bisa mengalahkan segala keraguan yang kita anggap tidak mungkin, mudah bagi Allah mengabulkannya," ungkap M Zaini Anwar, Senin (23/2).

Selama 4,5 tahun, pria kelahiran 30 Januari 1988 ini, menempuh pendidikan mengambil jurusan S-1 Dakwah Usuludin. Kemudian lulus, dan kembali pulang ke kampung halaman di Kota Sampit pada Maret 2013.Niat melanjutkan pendidikan S-2 pernah ia inginkan, namun ayahandanya meminta pulang karena kerinduan terhadap sang anak yang sudah bertahun-tahun tak hidup berkumpul bersama.

"Mulai tahun 2013 bantu mengurus pondok pesantren. Namun, setelah Abah wafat 15 Maret 2021, pengurusan Ponpes Al Marhamah Putra menjadi tanggungjawab saya dan Ponpes Putri diurus oleh Wardatul Gina, adik saudara perempuan saya yang kelima," terangnya.

“Selama sebulan penuh Ramadan kami memprioritaskan ibadah di pondok pesantren. Tidak menerima undangan kegiatan di luar. Kalau ada donatur yang menyumbang makanan tentu kami terima dengan senang hati,” imbuhnya.

Menurutnya, Ramadan bukan sekadar ritual ibadah, tetapi proses pembentukan karakter santri agar mengenal Allah, memahami ajaran agama, dan menata hati dengan akhlak yang baik. “Ramadan adalah bulan beramal. Ilmu yang sudah dipelajari harus diwujudkan dalam amal,” tukas Zaini.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam beribadah. “Pesan dari almarhum Abah, selesaikan apa yang sudah dimulai, pasti akan menghasilkan sesuatu yang istimewa. Semua amalan harus dilakukan secara istiqamah diiringi dengan hati yang ikhlas,” tegasnya.

Pada 10 hari terakhir Ramadan, pesantren juga menggelar tahajud bersama, salat tasbih, dan salat hajat yang dapat diikuti santri maupun keluarga.

"Selama Ramadan, santri tidak diperbolehkan pulang hingga Hari Raya Idulfitri. Terutama 14 santri yatim piatu tetap bertahan di pondok. Penggunaan telepon seluler juga dilarang, agar mereka bisa fokus belajar dan melaksanakan amalan ibadah tidak terganggu dengan dunia luar," ujarnya.

Untuk mengantisipasi permasalahan di ponpes, ia menerapkan aturan ketat untuk menjaga ketertiban, seperti kewajiban mengunci lemari, penggunaan tempat tidur terpisah, serta pengawasan kesehatan dan keamanan santri.

Santri yang lulus tidak langsung menerima ijazah, melainkan wajib menjalani masa pengabdian selama satu tahun. Selain itu, pesantren juga bekerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan Islam, termasuk Pondok Modern Darussalam Gontor, untuk mendatangkan tenaga pengajar pengabdian.

"Setiap penghujung Ramadan pesantren juga menerima dan menyalurkan zakat fitrah maupun zakat harta dari masyarakat," pungkas Zaini. (hgn/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#suasana ramadan #Marhamah #baamang #jalan ir soekarno #zaini #sampit #pondok pesantren