Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kisah Masjid Tua di Tepian Sungai Mentaya, Jadi Saksi Sejarah Tempat Teraman Bagi Para Pengungsi Tragedi Sampit

Heny Pusnita • Minggu, 1 Maret 2026 | 05:35 WIB

MASJID TUA : Masjid Noor Ketapang di Jalan Iskandar 29 yang berdiri di tepian Sungai Mentaya, Senin (23/2). HENY/RADARSAMPIT
MASJID TUA : Masjid Noor Ketapang di Jalan Iskandar 29 yang berdiri di tepian Sungai Mentaya, Senin (23/2). HENY/RADARSAMPIT

Masjid Noor Ketapang bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pernah menjadi benteng perlindungan warga saat tragedi kerusuhan antaretnis Sampit pada Februari 2001 silam. Di tengah ketegangan dan ancaman, masjid ini menjadi salah satu tempat paling aman bagi para pengungsi untuk menyelamatkan diri.


===========

Keberadaan Masjid Noor Ketapang terletak diujung perkampungan, tepatnya di tepian Sungai Mentaya, Jalan Iskandar 29, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Puluhan tahun silam, Jalan Iskandar bisa diakses hingga ke Samuda. Namun, sekitar tahun 1980an, jalan ini tertutup hutan yang sudah tak lagi diakses warga setempat hingga sekarang.

Tepat di samping Masjid Noor Ketapang, terdapat plang putih bertuliskan Pangkalan Kapal Patroli Bea Cukai Sampit Kementerian Keuangan dengan tanda panah mengarah ke dermaga Sungai Mentaya yang lokasinya persis bersebelahan dengan Masjid Noor Ketapang.

Selepas salat tarawih, Sanwani (43) salah satu pengurus Masjid Noor Ketapang membuka sejarah dibalik pendirian Masjid Noor Ketapang.

Berawal dari Musala berkonstruksi kayu yang dibangun dengan teknik pasak (tanpa paku besi) sekitar tahun 1950an menjadi bukti perwujudan kearifan lokal dalam memilih kekuatan struktur bangunan yang dikenal kuat dan awet.

"Musala ini dibangun berbarengan saja dengan Masjid Jami Ass Salam. Dari masa kecil hingga sekarang hidup tak jauh dari masjid ini," ucap Sanwani, saat ditemui usai salat tarawih, Senin (23/2).

Berkembangnya zaman, Musala tua direnovasi menjadi Masjid Noor Ketapang berukuran 30 x 40 meter pada tahun 1965. Konstruksi kayu yang masih kuat tetap dipertahankan,namun dikombinasikan dengan paku besi, tak lagi sepenuhnya menggunakan teknik pasak.

"Dulu masjid ini dikelola oleh KH Abdul Rahman yang juga menjadi tokoh agama yang mengisi ceramah di Masjid Jami. Beliau tinggal dekat masjid ini dan wafat tahun 1974. Lalu, kepengurusan masjid digantikan Cecep, menantunya sampai tahun 1980," ujarnya.

Setelah itu, kepengurusan Masjid Noor Ketapang dilanjutkan oleh KH Abdul Hadi Ridwan. Tokoh agama yang dikenal sebagai imam di Masjid Wahyu Al Hadi di Jalan Jenderal Sudirman KM 3. Namun, pada tahun 2023, KH Abdul Hadi Ridwan wafat dan disalatkan di Masjid Noor Ketapang.

"Masjid ini sudah dua kali di renovasi. Tahun 1965 dan tahun 2018. Semasa kepengurusan beliau, Bupati Kotim Supian Hadi saat itu menawarkan beliau untuk merenovasi total bangunan masjid kayu menjadi beton dengan anggaran sebesar Rp 3 Miliar dengan seratus persen menggunakan dana pemerintah," jelasnya.

Dengan pertimbangan biaya pemeliharaan bangunan kayu lebih besar ditambah bahan baku kayu ulin yang sulit didapat, masjid kayu bernilai sejarah akhirnya dibongkar menjadi masjid beton.

Bangunan masjid kuno berkontruksi kayu hanya tinggal kenangan yang dipajang dalam sebuah pigura di samping mimbar masjid. Kini bangunan Masjid Noor Ketapang nampak lebih modern dengan pemilihan warna cat hijau terang dipadukan kubah berwarna hijau tosca.

"Masjid ini kapasitas 400an. Dulu saat kerusuhan Sampit tahun 2001, masjid ini jadi tempat penampungan para pengungsi yang ingin melindungi diri dari ancaman maut. Sekeliling masjid saat itu dijaga ketat oleh warga setempat," ungkapnya.

Selama Ramadan, masjid ini menjalankan program ibadah sama seperti masjid pada umumnya. Menyediakan takjil berbuka puasa untuk 25 jemaah, melaksanakan salat lima waktu, salat tarawih 23 rakaat berjamaah ditutup dengan tadarus di malam hari.

"Semenjak KH Abdul Hadi Ridwan wafat, sudah tidak ada imam tetap. Kepengurusan masjid berjalan apa adanya. Operasional masjid diperoleh dari kotak amal setiap Jumat dikisaran Rp 1,3-1,5 juta per pekan. Pengeluaran masjid Rp 1,2 juta, Rp 300 ribunya masuk kas masjid untuk keperluan lain yang lebih mendesak," tandasnya. (hgn)

Editor : Slamet Harmoko
#masjid #Masjid Noor Ketapang