Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kisah Masjid Tua di Tepian Sungai Mentaya Sampit. Berawal dari Sebuah Langgar Sejak 1965

Heny Pusnita • Jumat, 27 Februari 2026 | 21:30 WIB

Bangunan Masjid Darul Ihram di Jalan Baamang I, yang berawal dari sebuah langgar kecil.
Bangunan Masjid Darul Ihram di Jalan Baamang I, yang berawal dari sebuah langgar kecil.

Lebih dari dua dekade berdiri, Masjid Darul Ihram di tepian Sungai Mentaya Sampit, Jalan Baamang I, Kelurahan Baamang Hulu, masih terjaga keasliannya. Rumah ibadah ini tetap terawat dan berfungsi dengan swadaya masyarakat sekitar dan pengurusnya.

--------------------

Selama lebih dari 25 tahun sejak diresmikan Bupati Kotim Periode 2005-2010 Wahyudi Kaspul Anwar, masjid ini tak pernah sekalipun direnovasi. Letaknya berada di kawasan perkampungan warga di pinggiran Kota Sampit.

Bangunan utama bercat hijau sage pucat tanpa desain mencolok. Pagar teras masjid terlihat memudar dan berkarat, sementara di sisi kanan teras terdapat bedug kayu bercat kuning mustard yang sudah lama dibiarkan mengelupas.

Secara fisik tak ada yang tampak istimewa. Namun, sejarah berdirinya menyimpan cerita panjang perjalanan masyarakat setempat.

Masjid Darul Ihram awalnya hanyalah sebuah langgar berkonstruksi kayu berukuran 19 x 20 meter yang dibangun sekitar tahun 1965. Lokasinya berada di bagian depan pekarangan, tepat di pinggir Jalan Baamang I.

Pada tahun 2001, setelah tragedi kerusuhan Sampit, bangunan langgar dibongkar dan digantikan dengan masjid dengan konstruksi beton permanen. Lokasinya dimundurkan sekitar 20 meter dari posisi semula sehingga halaman masjid kini terlihat lebih luas.

Pembangunan masjid dilakukan menggunakan dana bantuan pemerintah. Namun, besaran anggaran tidak diketahui, karena sebagian besar pengurus dan penasihat masjid terdahulu telah wafat.

“Bangunan Masjid Darul Ihram dibangun pakai dana pemerintah, tapi besaran anggarannya almarhum Abah yang lebih tahu,” kata Ahmad Firdaus, Ketua Takmir Masjid, kepada Radar Sampit, usai salat tarawih, Minggu (22/2).

Sejak diresmikan  sebagai masjid, tidak pernah mengalami renovasi. Atap, dinding, dan lantai keramik masih menggunakan material asli sejak pertama dibangun. Perbaikan terakhir hanya berupa pengecatan pada tahun 2023 yang dilakukan melalui swadaya masyarakat.

“Tahun 2023 hanya dicat saja, dananya dari swadaya masyarakat,” sahut Doni, keponakan Ahmad Firdaus.

Pengurus sebenarnya telah mengajukan proposal renovasi sekitar tahun 2023 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp700 juta. Dana tersebut direncanakan untuk penggantian atap, perbaikan dan penambahan WC, penambahan kran wudu, serta peninggian lantai yang kerap terendam banjir sejak 2014.

Namun proposal tersebut tidak terealisasi. “Ada yang menyebut kalau mau dibantu pemerintah harus lewat orang dalam, tapi orang itu meminta bagian persentase uang. Kami tidak lanjutkan, karena proposal ini sepenuhnya untuk kepentingan masjid,” beber Firdaus.

Keterbatasan dana menjadi tantangan utama pengelolaan masjid. Pendapatan hanya berasal dari kotak amal salat Jumat yang berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per pekan. Bahkan untuk membayar listrik dan air, Firdaus terkadang harus menggunakan dana pribadi.

“Kadang untuk memenuhi operasional masjid, pakai uang pribadi Paman Firdaus,” sahut Doni berterus terang.

Meski demikian, aktivitas keagamaan tetap berjalan, terutama selama Ramadan. Masjid rutin menggelar buka puasa bersama dengan takjil bagi sekitar 20 jemaah, salat tarawih 11 rakaat, tadarus Alquran, serta pengajian ibu-ibu setiap Senin.

“Ini suatu kebanggaan bagi kami, walaupun masjid berdiri alakadarnya, setiap hari besar seperti Maulid Nabi kami tetap bisa mengadakan kegiatan meriah dan mengundang penceramah,” lanjut Firdaus.

Antusiasme warga sekitar juga cukup tinggi. Saat kegiatan masjid berkurang, warga justru mempertanyakan dan mendorong pelaksanaan kegiatan kembali. Namun kondisi ekonomi masyarakat membuat tidak semua warga mampu memberikan sumbangan besar.

"Kami memahami perekonomian warga di kampung pas-pasan dan hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga kami juga tidak ingin memberatkan tarikan sumbangan. Semua yang menyumbang ikhlas semampu mereka saja, tanpa paksaan," ungkap Firdaus.

Pengelolaan masjid saat ini merupakan kelanjutan perjuangan almarhum Haji Asnawi Syar’i, mantan Ketua Takmir yang dikenal aktif mengajarkan Alquran, hadist, bahasa Arab, serta pembelajaran akidah dan akhlak kepada warga.

Sejak 2024, kondisi kesehatannya menurun, membuat Asnawi tidak lagi dapat beraktivitas di masjid. Ia wafat pada 9 Desember 2025 di usia 81 tahun.

Kepemimpinan takmir kemudian dilanjutkan oleh Ahmad Firdaus selaku anak dari Almarhum Asnawi.

 

Para pengurus masjid, usai melaksanakan Salat Tarawih, (22/2).
Para pengurus masjid, usai melaksanakan Salat Tarawih, (22/2).

“Abah sudah jadi pengurus sejak masih langgar sampai dibangun masjid. Posisi beliau selama puluhan tahun tidak tergantikan,” ujar Firdaus.

"Saat ini hanya tersisa tiga sesepuh masjid, yakni Irwansyah, Muhtar, dan Tarlan, yang juga dalam kondisi sakit-sakitan. Sementara yang seumuran Abah, semua sudah "habis" wafat mendahului Abah," sambungnya.

Kondisi bangunan yang menua menjadi perhatian utama pengurus. Atap seng mulai keropos, fasilitas pengeras suara sering rusak, dan sebelumnya masjid kerap terendam banjir setiap hujan deras.

Meski saluran drainase telah diperbaiki pada 2025 sehingga banjir tidak lagi terjadi, pengurus masih berharap adanya perhatian pemerintah, terutama untuk pembangunan fasilitas WC dan perbaikan bangunan.

“Kami berharap masjid ini bisa segera direnovasi. Kepedulian tidak akan datang kalau pejabat tidak melihat langsung kondisi masjid. Mudah-mudahan pejabat bisa menyempatkan datang beribadah ke sini,” pungkas Firdaus. (hgn/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#sungai mentaya #baamang hulu #langgar #masjid tua #sampit #darul ihram