Terima Pengaduan Dari Urusan Darurat sampai Curhat Percintaan
Selain persoalan emergency atau kedaruratan, ternyata hal-hal yang dianggap sepele bagi umumnya orang juga sering ditangani petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kotawaringin Barat (Kobar).Namun mereka tetap sigap dalam memberikan pelayanan kepada warga yang mengadu.
--------------------------------
Di balik seragam tahan panas dan sirene yang meraung, petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kobar menjalani hari-hari yang tak selalu diwarnai kobaran api. Sepanjang tahun 2025, Damkar Kobar menerima 310 laporan. Mayoritas justru bukan soal kebakaran, melainkan evakuasi sarang tawon dan ular yang masuk ke rumah warga.
Selebihnya, laporan kebakaran rumah, hingga panggilan darurat yang terdengar sepele namun penuh cerita.
Tak sedikit laporan emergency datang dari situasi tak terduga. Mulai dari melepas cincin yang tersangkut di jari karena pembengkakan, hingga persoalan teknis rumah tangga. Semua diterima, semua dicatat, dan semuanya direspons. Bagi Damkar, setiap laporan adalah potensi bahaya, sekecil apa pun kelihatannya.
Kepala Dinas Damkar Kobar Dwi Agus Suhartono, tersenyum sambil menyeruput kopi saat berbincang santai bersama jurnalis PWI Kobar, Selasa (23/12).
Ia menceritakan salah satu laporan paling unik tahun ini, permintaan bantuan memasang lampu rumah, hanya karena si pemilik tidak memiliki tangga. “Memang terdengar tidak masuk akal, karena ada tetangga juga padahal. Tapi itu tetap kami anggap sebagai bentuk pertolongan,” ujarnya.
Menurut Agus, prinsip Damkar sederhana namun tegas. Setiap laporan harus direspon, apa pun bentuknya. Bahkan, laporan memasang regulator LPG pun pernah ditangani. Yang lebih tak terduga, ada pula warga yang menghubungi Damkar hanya untuk curhat masalah asmara, karena hubungannya tak direstui orang tua. “Bagi sebagian orang itu sepele, tapi SOP kami jelas, siap melayani setiap laporan,” katanya.
Kisah-kisah unik itu belum termasuk laporan hoaks yang setelah ditindaklanjuti ternyata bohong. Namun bagi Damkar, kesiapsiagaan tak boleh surut. “Banyak laporan aneh-aneh masuk ke markas kami. Tapi mau bagaimanapun, Damkar harus hadir di tengah masyarakat,” tegas Agus.
Salah satu cerita yang dikenang petugas adalah laporan seorang ibu yang ketakutan di malam hari akibat suara mendenging misterius di rumahnya. Tim Damkar langsung turun ke lokasi. Setelah diperiksa, sumber suara ternyata berasal dari mikrofon yang lupa dicabut, menimbulkan suara storing. “Memang sepele, tapi saat itu beliau benar-benar ketakutan,” celetuk seorang petugas sambil tertawa.
Ada pula laporan sandal yang tersangkut di atap rumah. Sang anak melempar sandal saat bermain, dan sandal itu tak bisa diambil. Meski hanya membutuhkan sebatang kayu, orang tua sang anak tetap menghubungi Damkar. “Kejadian-kejadian seperti ini sering kami temui,” ujar petugas, mengakui bahwa tak semua laporan berakhir dengan aksi dramatis, tapi tetap membutuhkan kehadiran.
Di balik peran bak super hero di mata masyarakat, Damkar Kobar masih berjibaku dengan keterbatasan. Jumlah personel hanya 22 orang, memaksa pengaturan jadwal piket yang ketat agar tetap siaga apalagi dengan luas wilayah yang relatif besar. Meski demikian, setiap personel memiliki keahlian khusus—mulai dari penanganan ular, hingga membantu kasus kesurupan massal di sekolah.
“Dengan segala keterbatasan, kami tetap berkomitmen memaksimalkan apa yang ada untuk melayani masyarakat,” pungkas Agus. (*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama