Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ketika Harga Beras dari Jawa Naik, Beras Lokal Coba Raih Pasar dengan Kualitas Bersaing

Yuni Pratiwi Iskandar • Minggu, 6 Juli 2025 | 06:00 WIB
Penjual sedang menyusun salah satu jenis beras lokal kemasan yang dijual di beberapa warung sembako di Sampit, Sabtu (5/7).
Penjual sedang menyusun salah satu jenis beras lokal kemasan yang dijual di beberapa warung sembako di Sampit, Sabtu (5/7).

Harga beras kemasan dari Pulau Jawa yang mengalami tren kenaikan harga membuat sebagian warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim),  beralih mengkonsumsi ke beras lokal, yang dinilai harganya lebih ramah di kantong.

Yuni Pratiwi Iskandar, Sampit

Kenaikan harga ini terutama terjadi pada beras kemasan dengan merk ternama yang dipasok dari Pulau Jawa. Dalam sepekan terakhir, harga kemasan 5 kilogram melonjak Rp2.000 hingga Rp3.000 per bungkus. Sebelumnya dijual di kisaran Rp75.000–Rp80.000, kini trennya kembali mengalami kenaikan.

 “Konsumen mulai banyak yang tanya beras lokal. Mereka merasa berat kalau harus beli beras dari Jawa terus,” ujar Ana, salah satu pedagang beras di Sampit, Sabtu (5/7).

Sebagai perbandingan, harga beras lokal kemasan 5 kilogram di pasaran masih berada pada kisaran Rp70.000 hingga Rp73.000. Selisih harga ini menjadi pertimbangan utama masyarakat, terutama bagi ibu rumah tangga dengan pendapatan terbatas.

Meski kualitas beras lokal tergolong medium, dan beberapa jenis beras lokal memang masih mengandung butiran patah (broken rice), namun teksturnya disebut-sebut tak jauh berbeda.

“Kalau tahu memilih, beras lokal juga ada yang bersih dan pulen. Memang tidak semuanya utuh, tapi untuk konsumsi sehari-hari cukup enak,” tambah Ana.

Lebih lanjut kata Ana, kondisi ini menunjukkan bagaimana daya beli masyarakat mulai menyesuaikan dengan kondisi harga kebutuhan pokok, apalagi beras sebagai komoditas utama masyarakat.

Salah satu pemasok beras lokal dari petani Devi, mengaku permintaan konsumen dan pedagang eceran belakangan ini meningkat, terutama di beberapa pasar tradisional di Sampit dan sekitarnya. “Sekarang beras lokal juga ada yang pulen dan seperti beras dari Pulau Jawa. Jadi para konsumen mulai menyukai,” ungkapnya.

Sementara itu dikutip dari MMC Kalteng, Badan dan Pusat Statistik (BPS) Kalteng telah  merilis Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2025 beserta sejumlah indikator strategis lainnya, Selasa (1/7/2025) lalu.

Kepala BPS Kalteng Agnes Widiastuti, didampingi oleh Staf Ahli Gubernur (Sahli) Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Yuas Elko memaparkan, catatan inflasi di Provinsi Kalteng pada Juni 2025 sebesar 0,32 persen (month-to-month). Inflasi tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 1,06 persen, dan inflasi tahun kalender sebesar 1,08 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,21 persen yang disebabkan oleh naiknya harga bawang merah, ikan peda, dan cabai rawit, dan sigaret kretek mesin (skm).

Di sisi lain lanjutnya, beberapa komoditas justru menyumbang deflasi, seperti beras, ikan nila, ikan patin, ikan baung dan bensin. Empat wilayah pantauan di  Kalteng yang mengalami inflasi (month-to-month) yaitu Kapuas (0,46%), Sampit (0,43%), Palangka Raya (0,19%), dan Sukamara (0,06%).

Bersamaan dengan itu, BPS juga merilis Nilai Tukar Petani (NTP)  Kalteng yang pada Juni 2025 mengalami penurunan sebesar 1,68 persen, dari 134,29 menjadi 132,04. Penurunan ini dipicu oleh turunnya harga yang diterima petani (It) sebesar 1,40 persen, dan naiknya harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,28 persen.

Dari lima subsektor, empat mengalami penurunan NTP: Tanaman Pangan (-0,28%), Perkebunan Rakyat (-2,45%), Peternakan (-0,83%), dan Perikanan (-0,51%). Hanya subsektor hortikultura yang mencatat kenaikan NTP sebesar 1,19 persen dan perikanan budidaya sebesar 1,48 persen.

“Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga ikut menurun sebesar 1,77 persen, dari 138,71 menjadi 136,26, mencerminkan tekanan pada biaya produksi dan daya beli petani,” papar Agnes. (*/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#beras lokal #Pulen #harga beras #kotawaringin timur