JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Psikolog keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, mengimbau masyarakat untuk lebih bijak ketika memberi komentar kepada pasangan menikah yang belum memiliki anak.
Hal ini penting agar pasangan tidak terbebani oleh tekanan dari lingkungan sekitar.
Sani menyoroti bahwa seringkali rekan atau anggota keluarga bertanya atau mengkritik status tanpa anak, padahal hanya pasangan tersebut yang mengetahui kesiapan mereka.
”Komentar berlebihan hanya menambah tekanan psikologis. Kita tidak pernah tahu kondisi sebenarnya—apakah mereka sedang berusaha, menunda, atau memang belum siap,” ujarnya.
Menurut Sani, sikap negatif dapat memperburuk perasaan pasangan dan membuat mereka merasa rendah diri.
Ia mendorong pasangan yang memutuskan menunda punya anak—baik karena alasan finansial, karier, atau kesiapan mental—untuk menyampaikan keputusannya secara tegas namun santun.
”Kalau ada yang bertanya, mereka bisa menjawab, ‘Kami merencanakan sesudah tahun depan,’ tanpa merasa dipermalukan,” katanya.
Sani juga menegaskan bahwa dalam rumah tangga, suami istri berhak menentukan sendiri waktu untuk memiliki anak.
Bagi yang memilih menunda, penggunaan kontrasepsi bersama—seperti spiral, IUD, kondom, atau metode kalender—dapat membantu mematuhi rencana keluarga.
”Perencanaan keluarga yang matang adalah hak pasangan. Dengan kontrasepsi yang tepat, mereka bisa menjalani rumah tangga sesuai tujuan bersama,” kata Sani.
Dengan pemahaman dan dukungan lingkungan, tekanan sosial dapat diminimalkan sehingga pasangan dapat fokus pada keputusan keluarga yang terbaik bagi mereka. (*)
Editor : Gunawan.