Radarsampit.jawapos.com – Jepang punya salah satu tradisi turun menurun untuk menjalin kehangatan antar individu yang dikenal dengan Sado atau Chanoyu.
Chanoyu ini juga diartikan dengan istilah ”the way of tea” yang maknanya jalan relaksasi dengan minum teh bersama.
Ya! chanoyu adalah upacara minum teh ala Jepang yang dilakukan sejak turun-temurun.
Chanoyu tentunya bukan saja minum teh biasa, namun merupakan bagian kegiatan budaya Jepang yang melibatkan persiapan upacara dan penyajian matcha, teh hijau bubuk.
Tata cara pembuatannya disebut dengan temae. Teh hijau khusus dipilih sebagai bahan teh dalam upacara ini.
Sejarah minum teh ala Jepang atau Chanoyu sudah berlangsung sejak Zaman Edo.
Pada tahun 1500-an, Sen no Rikyu merevolusi budaya minum teh Jepang dan menyempurnakannya hingga menjadi yang sekarang dikenal sebagai upacara minum teh Jepang dan mengangkatnya ke status sebuah bentuk seni.
Rikuu mendefinisikan ulang aturan rumah teh, kebun teh, peralatan, dan prosedur upacara minum teh dengan interpretasinya sendiri, memperkenalkan chashitsu (rumah teh) yang jauh lebih kecil dan mangkuk teh keramik yang sederhana dan terdistorsi khusus untuk upacara minum teh, dan menyempurnakan upacara minum teh berdasarkan rasa estetika wabi.
Kemudian Cicit Sen no Rikyū mendirikan sekolah upacara minum teh Omotesenke, Urasenke, dan Mushakōjisenke, dan upacara minum teh menyebar tidak hanya ke daimyo (penguasa feodal) dan kelas samurai, tetapi juga ke masyarakat umum, yang mengarah pada pendirian berbagai sekolah upacara minum teh yang berlanjut hingga hari ini.
Agama Buddha Zen merupakan pengaruh utama dalam pengembangan budaya minum teh di Jepang.
Agama Shinto juga sangat memengaruhi upacara minum teh di Jepang.
Misalnya, praktik penyucian tangan dan mulut sebelum melakukan upacara minum teh dipengaruhi oleh ritual penyucian misogi dalam agama Shinto.
Gaya arsitektur chashitsu dan gerbang yang berfungsi sebagai batas antara kebun teh dan dunia sekuler dipengaruhi oleh arsitektur kuil Shinto dan torii (gerbang kuil).
Yang lebih jarang lagi, praktik minum teh Jepang menggunakan teh daun, terutama sencha. Praktik yang dikenal sebagai senchadō atau Jalan Sencha.
Acara minum teh kini diklasifikasikan sebagai acara minum teh informal (chakai) atau acara minum teh formal (chaji).
Chakai adalah acara kumpul-kumpul yang relatif sederhana yang meliputi wagashi (manisan), teh encer, dan mungkin makanan ringan.
Sedangkan Chaji adalah acara kumpul-kumpul yang jauh lebih formal, biasanya meliputi hidangan kaiseki lengkap yang diikuti oleh manisan, teh kental, dan teh encer. Acara chaji dapat berlangsung hingga empat jam.
Prosedur Chanoyu
Setelah semua tamu minum teh, tuan rumah membersihkan peralatan makan dan bersiap untuk menyimpannya.
Tamu kehormatan akan meminta tuan rumah untuk mengizinkan tamu memeriksa beberapa peralatan makan, dan setiap tamu secara bergiliran memeriksa setiap barang, termasuk wadah teh dan sendok teh.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menunjukkan rasa hormat dan kekaguman kepada tuan rumah.
Barang-barang tersebut diperlakukan dengan sangat hati-hati dan penuh hormat karena barang-barang tersebut mungkin merupakan barang antik buatan tangan yang tak ternilai harganya dan tak tergantikan.
Para tamu sering menggunakan kain brokat khusus untuk menanganinya.
Tuan rumah kemudian mengumpulkan peralatan, dan para tamu meninggalkan rumah teh.
Tuan rumah membungkuk di pintu, dan acara minum teh pun berakhir.
Acara minum teh dapat berlangsung hingga empat jam, tergantung pada jenis acara yang diselenggarakan, jumlah tamu, serta jenis makanan dan teh yang disajikan. (sbn)
REFERENSI: Eichu, Gonsaku Dajo Dejiten, Yuki, Wikipedia.Org
Editor : Gunawan.