Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kado Terindah di Puncak Hari Guru Nasional, Sinyal Indonesia Menuju Negara Maju

Sabrianoor • Sabtu, 30 November 2024 | 07:45 WIB
Sabrianoor
Sabrianoor

Oleh: Sabrianoor*

Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan kenaikan gaji guru yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan guru honorer non-ASN dalam momen Puncak Hari Guru Nasional di Velodrome, Jakarta, Kamis (28/11/2024).

Prabowo mengatakan, gaji guru ASN akan mengalami kenaikan sebesar satu kali gaji pokok. Sementara tunjangan profesi guru non-ASN yang telah mengikuti sertifikasi guru akan naik menjadi Rp2 juta.

Kabar tersebut merupakan kado paling spesial bagi seluruh guru di Indonesia pada momen yang berkesan; Hari Guru Nasional.

Namun, jika ditelisik lebih dalam dari definisi guru itu sendiri, kebahagiaan guru yang sejati adalah melihat anak didiknya telah sukses, jadi orang besar lalu datang menyapa dan mencium tangannya lalu berkata, ”Ia adalah guruku, orang yang tulus ingin aku lebih baik".

Kado spesial bagi guru yang dijanjikan presiden, jangan sampai membuat ada guru lagi yang berkecil hati.

Datangi dia, karena sesungguhnya definisi mendidik dari seorang guru tidak semua bisa terdeteksi dengan label predikat ASN dan sertifikasi.

Datangi mereka yang seringkali menelan ludah dengan gaji ratusan ribu jauh dari kata cukup.

Jangan sampai ia meminta, merengek meskipun mungkin benar-benar ikhlas, tapi mereka manusia yang punya kebutuhan hidup.

Yakinlah, guru sebenar-benarnya bukanlah profesionalitas semata melainkan sebuah dedikasi.

Dedikasi! Ya, dedikasi. Kata itu pantas untuk yang disebut dengan guru, dengan fungsinya mendidik.

Hal ini berbeda dengan pengajar yang mentransfer ilmu. Mendidik mencakup mengajar, mengurusi, membentuk, menjadi hakim jika murid berseteru, jadi dokter ketika murid sakit, jadi psikiater ketika murid bermasalah, dan masih banyak lainnya.

Tidak bisa, tidak! Apalagi mereka yang menjadi guru sekolah dasar, tidak mungkin membiarkan mereka yang belum mengerti apa-apa.

Ini benda hidup dan bukan manusia yang sudah mapan pikirannya.

Ini sudah seperti orang tua, menuntut kesabaran bahkan tidak hanya satu atau dua anak tapi puluhan.

Namun, masih saja ada yang tidak memaklumi. Kita orang tua biasa bahkan tak sedikit ada yang memukul, padahal hanya mengurusi satu atau dua anak, mereka guru yang dihadapi adalah puluhan.

Patut digarisbawahi, guru layaknya manusia biasa punya rasa ingin ini, ingin itu. Tapi, semua akan dibatasi saat dia ada di sekitar anak didiknya, kepribadiannya dikontrol oleh tanggung jawab moral.

Baik pakaiannya, sikapnya, nafsunya, sabarnya, semua akan ditampilkan sebaik mungkin, hanya semata-semata anak didiknya mengambil yang baik dari dirinya. Guru digugu dan ditiru.

Kembali kepada kebijakan presiden, sebagai mantan seorang guru , secara pribadi sangat berbahagia sekali mendengar berita itu.

Sungguh ini merupakan sinyal kebangkitan Indonesia menjadi negara maju.

Mengapa? Meski tidak ada landasan teori, jika dicermati akan ada relevansi.

Lihat semua negara maju, Jepang, AS, Swedia, Jerman dan lainnya, merupakan negara-negara yang mensejahterakan guru-gurunya.

Profesi guru di negara maju setingkat lebih tinggi dibandingkan rata-rata profesi lainnya jika ditelisik dari nominal gaji.

Jarang ada pemberitaan guru yang meminta kenaikan, karena apa? Karena semua sudah dipenuhi sebelum guru berucap. Tak layak memang jika kesejahteraan harus guru sendiri yang memperjuangkan.

Secara absurd, bahkan negara maju seperti Jepang, Swedia dan Korea Selatan,merupakan negara yang banyak tidak mengakui keberadaan Tuhan namun sangat mungkin, karena cara mereka memposisikan guru menimbulkan berkah akan majunya sebuah negara.

Kembali kepada negara kita, lihatlah relevansinya ketika masih banyak guru honorer yang gaji ratusan ribunya jauh dari kata cukup lalu dibayar per tiga bulan.

Ada yang punya kuasa, tapi diam, karena menganggap ini bukan kepentingan strategis.

Tapi, lihatlah yang terjadi secara umum pada negara, bisa dinilai sendiri. Sangat mungkin, ada yang tidak mau bangsa ini pintar cerdas berakhlak, agar mudah disetir dan kebobrokan elit penguasa sebelumnya tidak tercium.

Selamat Hari Guru Nasional. Terima kasih kado dan cintanya. Saya yakin semua guru ikhlas, namun cara negara ini memperlakukan para gurunya adalah kunci kebangkitan bangsa ini. )* Wartawan Radar Sampit di Kuala Kapuas

Editor : Slamet Harmoko
#gaji naik #hari guru #negara maju #prabowo #gaji guru #presiden #guru #kado