Radarsampit.jawapos.com – Norwegia, negara Skandinavia yang terletak di Eropa Utara, merupakan salah satu negara dengan tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi.
Hal ini lantaran negara yang sebelumnya sudah maju dan mapan ini malah menemukan tambang gas dan minyak bumi di negaranya yang semakin memperkaya negara dan menjamin masa depan.
Namun, alih-alih jor-joran eksplorasi bahan bakar fosil untuk kebutuhan sendiri, Norwegia memilih efisiensi bahan bakar fosil.
Minyak dan gas hanya untuk diekspor dan cadangan investasi.
Norwegia telah mengembangkan hampir 100 persen energi terbarukan di negaranya sendiri. Bahkan, 90 persen penduduknya menggunakan kendaraan non-BBM.
Superioritas Norwegia akan efisiensi penggunaan energi nonfosil membawanya semakin mendekati target emisi nol persen.
Hal ini sesuai dengan fakta yang dihimpun dari berbagai sumber, meskipun Norwegia terkenal dengan cadangan besar dan produksi minyak mentah serta gas alamnya, negara ini mengakui perlunya mengubah sektor energinya sejalan dengan transisi energi dan berkomitmen penuh untuk mengambil peran dalam dekarbonisasi ekonomi global.
Negara ini telah berkomitmen memangkas emisi GRK-nya. Setidaknya sebesar 55% pada tahun 2030 dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 1990 dan mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.
Sekalipun target ini tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa Utara lainnya (Denmark menargetkan pengurangan sebesar 70% pada tahun 2030, Inggris 68%, Jerman 65%, Swedia 63%, dan Finlandia 60%), transisi harus terjadi dengan cepat, karena emisi GRK pada tahun 2022 masih lebih tinggi daripada tahun 1990.
Dengan sektor ekstraksi minyak dan gas yang menyumbang sekitar seperempat emisi GRK domestik dan untuk mengimbangi penurunan pendapatan ekspor minyak dan gas sebagai akibat dari proyeksi penurunan permintaan global untuk hidrokarbon, negara ini ingin membangun industri ekspor hijau baru.
Selain itu, Norwegia semakin terdampak oleh peristiwa terkait perubahan iklim dan sektor-sektor tertentu perlu beradaptasi dengan tepat.
Kebutuhan untuk mendiversifikasi sumber energi menuju energi terbarukan non-hidro.
Pembangkit listrik, yang merupakan salah satu sumber emisi GRK terpenting di tingkat global, sebagian besar sudah dilayani energi terbarukan di Norwegia—sekitar 90% listrik dihasilkan dari tenaga air.
Namun, peristiwa cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi seperti kekeringan atau hujan lebat, menghambat berfungsinya instalasi tenaga air dengan benar dan melemahkan penyediaan energi.
Selain itu, meskipun negara tersebut menghasilkan lebih banyak listrik daripada yang dikonsumsinya dan mengekspor surplusnya, permintaan listrik diperkirakan akan terus tumbuh di tahun-tahun mendatang, khususnya karena Norwegia akan menjadi negara pertama yang melarang penjualan mobil bensin dan diesel baru pada tahun 2025.
Oleh karena itu, pihak berwenang berupaya untuk mendiversifikasi sumber energi.
Sumber pembangkit listrik baru yang tumbuh paling cepat di negara tersebut adalah energi terbarukan non-hidro, terutama fotovoltaik surya yang dipimpin oleh instalasi perumahan.
Peraturan yang menguntungkan dan keterjangkauan teknologi surya merupakan dua faktor yang mendukung permintaan dalam hal ini.
Segmen angin lepas pantai adalah pendatang baru di pasar pembangkit listrik domestik, dan Hywind Tampen, ladang angin lepas pantai terapung pertama di Norwegia, baru beroperasi penuh sejak Agustus 2023.
Sementara itu, otoritas melanjutkan dengan mengadakan lelang angin lepas pantai tetap pertama pada bulan Maret untuk proyek Sorlige Nordsjo II, dengan komitmen kuat untuk mengembangkan kapasitas angin lepas pantai sebesar 30 GW pada tahun 2040.
Hidrogen bersih sebagai industri ekspor berkelanjutan untuk mengimbangi kerugian akibat hidrokarbon.
Pengembangan produksi hidrogen bersih berkontribusi pada transisi energi sekaligus mengimbangi hilangnya pendapatan dari ekspor minyak dan gas secara progresif ketika emisi nol karbon diwujudkan diseluruh dunia.
Norwegia mengembangkan teknologi hidrogen hijau (menggunakan tenaga terbarukan) dan biru (melalui penangkapan dan penyimpanan karbon CO2).
Dua sektor penggunaan akhir telah diprioritaskan: transportasi laut dan industri yang membutuhkan banyak energi.
Sementara hidrogen hijau terutama cocok untuk memenuhi permintaan domestik, hidrogen biru harus lebih difokuskan pada ekspor.
Karena Norwegia merupakan pelopor dalam pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), yang didukung oleh proyek-proyek berskala besar yang didukung publik.
Hal ini menjadikan hidrogen biru yang menggunakan gas sebagai solusi yang menarik untuk transisi energi, yang dibangun atas sinergi dan keahlian sektor gas.
Filosofi Efisiensi
Perang Ukraina dan Rusia mengalihkan pasar minyak dunia, yang sebelumnya dikuasai Rusia.
Eropa memilih Norwegia sebagai pemasok terbesarnya akan minyak dan gas.
Membuat minyak dan gas di benua biru tersebut 40 persennya berasal dari Norwegia. Posisi ini memjadikan Norwegia semakin kaya.
Jangan tanya lagi, bagaimana kesejahteraan penduduk di Norwegia yang selalu menempati 5 besar dunia.
Namun, di balik itu semua, Norwegia selalu berpegang teguh akan filosofi di mana minyak untuk dijual di luar negeri dan negara memilih energi terbarukan.
Devisa naik, karbon rendah, investasi terjamin. Itulah Norwegia, negara yang cerdas dalam efisiensi. (sbn/ign)
Referensi: Energy global, offahore magazine, solar quarter, jakarta globe
Editor : Gunawan.