Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Lebih Dekat dengan Pasar Janda di Mauritania, Dimana Janda Semakin Terdepan

Sabrianoor • Rabu, 9 Oktober 2024 | 19:50 WIB
PASAR JANDA: Para janda di Pasar Janda Mauritania.
PASAR JANDA: Para janda di Pasar Janda Mauritania.

Radarsampit.jawapos.com – Jika secara normal dan populer di berbagai belahan bumi pria biasanya akan lebih memilih wanita yang masih perawan atau belum pernah menikah untuk dijadikan istri, tidak sama halnya dengan negara yang satu ini.

Ya, Mauritania, negara yang terletak di tengah Gurun Sahara ini merupakan rumah bagi fenomena budaya unik yang sangat kontras dengan norma-norma global seputar perceraian.

Dikutip dari salah seorang Youtuber Yordania, Joe Hattab dalam channel Youtube-nya, ia melakukan pengamatan langsung bagaimana fenomena unik ini menjadi tradisi di Mauritania, hingga memiliki pasar tempat berkumpulnya para janda.

Dalam ekpsedisinya di negara Afrika barat laut ini, yang masih kental pengaruh Islam, perceraian sebaliknya akan dirayakan.

Terutama bagi kaum wanita, yang sering kali menjadi pusat perayaan rumit yang menandai berakhirnya pernikahan mereka.

Hal ini dikarenakan para wanita yang bercerai dapat membangun kembali status sosial mereka dan dianggap diinginkan untuk menikah lagi.

Dalam setiap wawancara Joe dengan masyarakat setempat banyak laki-laki yang lebih menginginkan seorang janda dibanding perawan.

Wanita yang bercerai dianggap berpengalaman dan bijaksana, telah memperoleh wawasan dan kedewasaan dari pengalaman perkawinan mereka sebelumnya.

Para janda biasa berkumpul di Pasar Janda, berjualan harta yang ditinggalkan suaminya.

Tentunya para pria yang datang ke pasar janda, selain membeli sesuatu juga untuk melakukan pendekatan ke para janda.

 

 

 

 

Budaya Matriarki Memicu Perceraian Tinggi

Budaya matriarki di negara tersebut secara historis telah memberikan wanita tingkat otonomi dan kemandirian yang signifikan, terutama jika dibandingkan dengan bagian lain di dunia Arab.

Di Mauritania, bukan hal yang aneh bagi pernikahan untuk berakhir. Hal ini berkorelasi dengan tingginya tingkat perceraian.

Diperkirakan kurang lebih sepertiga dari ikatan pernikahan bubar. Namun, tidak seperti banyak budaya di mana perceraian membawa stigma, di Mauritania, perceraian sering kali menjadi alasan untuk merayakan.

Pesta perceraian adalah hal yang umum, di mana wanita, dikelilingi oleh teman dan keluarga, bersukacita atas kebebasan barunya dengan musik, tarian, dan pesta.

Pertemuan-pertemuan ini bukan hanya acara sosial, tetapi juga deklarasi publik tentang ketersediaan wanita untuk menikah lagi.

Tingkat perceraian yang tinggi di Mauritania telah memunculkan apa yang oleh beberapa sosiolog disebut sebagai 'karier perkawinan', di mana perempuan dapat menikah beberapa kali sepanjang hidup mereka.

Seorang perempuan dengan pengalaman dari pernikahan sebelumnya, sering kali dipandang sebagai prospek yang lebih baik daripada seorang pengantin muda yang tidak berpengalaman.

Perspektif ini memberdayakan perempuan untuk mengajukan perceraian jika mereka merasa kebutuhan mereka tidak terpenuhi.

Menantang narasi tradisional tentang perempuan yang menjadi peserta pasif dalam perkawinan.

Hukum Islam, yang mengatur pernikahan dan perceraian di Mauritania, mencakup ketentuan yang dikenal sebagai 'khul', yang memungkinkan seorang istri untuk mengajukan gugatan cerai dengan memberikan kompensasi kepada suaminya, biasanya dengan mengembalikan mahar.

Kerangka hukum ini memberi perempuan kewenangan yang signifikan dalam mengakhiri pernikahan mereka, yang jarang terjadi di banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Sifat perayaan perceraian di Mauritania menunjukkan pendekatan unik negara tersebut terhadap dinamika perkawinan dan gender.

Ini adalah masyarakat di mana nilai seorang wanita tidak berkurang dengan perceraian; sebaliknya, sering kali meningkat.

 

 

 

 

Tantangan Tradisi

Namun, sistem ini bukannya tanpa tantangan. Tingkat perceraian yang tinggi menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap anak-anak dan stabilitas keluarga.

Selain itu, implikasi ekonomi bagi wanita, terutama mereka yang tidak memiliki kemandirian finansial, bisa jadi signifikan.

Terlepas dari kekhawatiran ini, pasar perceraian di Mauritania tetap menjadi contoh menarik tentang bagaimana praktik budaya dapat mendefinisikan ulang norma-norma sosial dan memberdayakan individu, khususnya wanita, dengan cara yang menentang ekspektasi konvensional.

Meskipun mungkin tampak aneh bagi orang luar, bagi banyak wanita Mauritania, akhir dari sebuah pernikahan bukan hanya akhir tetapi perayaan awal yang baru dan janji masa depan yang lebih memuaskan. (sbn)

Referensi: Channel Youtube ' Joe Hattab , Divorce, India Time, Tuko

Editor : Gunawan.
#mauritania #janda #perceraian