Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ketika Petrus, Sang Assasin Orde Baru Jadi Metode Extra Judicial Killing Penguasa

Gunawan. • Selasa, 27 Agustus 2024 | 17:43 WIB
Ilustrasi penembakan.
Ilustrasi penembakan.

Di awal tahun 1980-an, Indonesia menghadapi berbagai aksi kriminal dan premanisme yang tumbuh subur di berbagai daerah, khususnya Pulau Jawa.

Namun, seiring waktu berjalan, secara misterius terjadi penurunan angka kejahatan.

Hal itu ditandai banyaknya orang-orang yang diduga preman ditemukan mayatnya di beberapa sudut kota maupun desa.

Kondisi demikian menimbulkan dua pandangan berbeda. Selain angka kriminalitas menurun, pembunuhan-pembunuhan terhadap pelaku kejahatan tersebut belum menemui titik terang siapa pelaku utamanya?

Hingga tahun 1989, misteri tersebut terkuak setelah terbitnya buku otobiografi sang penguasa orde baru.

Dihimpun dari berbagai sumber, secara singkatnya orang-orang yang memiliki data kriminal dan diduga mengintimidasi masyarakat, akan diawasi serta diikuti oleh agen misterius yang terlatih.

Melalui proses tanpa jejak, agen tersebut menghabisinya. Mayatnya akan ditinggalkan di tempat yang bisa ditemukan warga.

Tidak ada angka pasti jumlah korban tewas akibat pembunuhan Petrus (penembakan misterius).

Pada tahun 1983, diperkirakan 300 mayat ditemukan di seluruh Indonesia. Karena masih banyak penjahat yang hilang, angka tersebut kemungkinan tidak akurat dan diremehkan

Selama bertahun-tahun, hal ini baru diketahui faktanya dan erat  dengan gaya kepemimpinan Presiden Indonesia waktu itu; Soeharto.

Operasi Petrus memicu kontroversi dan perdebatan sengit di berbagai kalangan, termasuk ahli hukum, politisi, dan pemegang kekuasaan.

Pro dan kontra bermunculan terkait efektivitas dan etika operasi ini.

Bahkan, Amnesty International mengirimkan surat mempertanyakan kebijakan pemerintah Indonesia terkait Petrus.

 

Penjelasan Petrus dari Buku Otobiografi Soeharto

The Smiling General atau Sang Jenderal yang Tersenyum didapatkan Jenderal Soeharto atau penguasa orde baru tersebut karena kebiasaan yang selalu tersenyum dan menunjukan keramahan yang terpaut di wajahnya yang selalu terlihat tenang.

Terutama di hadapan pers dan berbagai acara resmi kenegaraan.

Selain dijuluki sebagai Bapak Pembangunan, Soeharto juga memiliki rekam jejak yang kontroversial di balik tangan dinginnya.

Dalam sebuah buku otobiografinya berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, menjelaskan tentang peristiwa Petrus.

Sebuah peristiwa penembakan misterius di luar hukum (extra judicial killing) yang terjadi di awal dekade tahun 1980-an.

Dalam buku tersebut, ia mengakui secara tersirat bahwa dirinyalah yang merupakan aktor utama di balik ketegasan kontroversial tersebut.

Seperti dikutip dari laman BBC yang mengulas otobiografinya, Soeharto menyebutkan bahwa latar belakang peristiwa itu didahului ketakutan yang dirasakan rakyat, seperti perampokan, pembunuhan, dan ancaman-ancaman dari orang jahat.

”Umpamanya, orang tua sudah dirampas pelbagai miliknya, kemudian masih dibunuh," kata Suharto kepada G Dwipayana dan Ramadhan KH yang menulis buku otobiografinya.

Bagi Suharto, hal itu sudah keterlaluan dan tidak bisa didiamkan. "Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment, tindakan yang tegas," katanya.

Melalui agen rahasianya yang kerap diberitakan sebagai penembakan misterius alias petrus, Soeharto tanpa basa-basi menindak sepihak para pelaku kriminal dengan tembak di tempat.

Hal ini tentunya tanpa melewati sistem hukum dan peradilan. Meskipun dinilai di kemudian hari sebagai tindakan yang tidak dibenarkan, namun dari data kriminal di era tersebut terjadi penurunan signifikan.

Salah satunya dalam pemberitaan Harian Kompas, 25 April 1983, yang memberitakan, di Yogyakarta tidak ada lagi kasus perampokan, penodongan, dan pemerasan, di minggu keempat pelaksanaan operasi pemberantasan kejahatan (OPK).

Sedangkan kasus jambret, pencurian kendaraan bermotor, sampai pada 23 April, masing-masing hanya terjadi sekali dan dua kali.

Sebelum OPK, perampokan rata-rata per bulannya terjadi 40 kali.

Soeharto sendiri dalam bukunya tersebut mengungkapkan bahwa kekerasan yang dicerna masyarakat sebagai kesadisan sudah melewati prosedur tertentu.

”Tapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! dor! dor! begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya, mau tidak mau harus ditembak. Karena melawan, maka mereka ditembak."

Selain itu ia sengaja memberikan semacam " shock theraphy" dengan mayat-mayat yang ditinggalkan begitu saja di jalan atau tergeletak di pinggir jalan.

”Supaya banyak orang mengerti, bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya," katanya.

”Maka, meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu," imbuh Suharto seperti tertulis dalam otobiografinya yang diterbitkan tahun 1989. (rm-107)

Referensi: Buku Otobiografi Soeharto,1989; Harian Kompas 1983; BBC 2022, wikileaks.

Editor : Gunawan.
#soeharto #penembak misterius #orde baru #assasins creed #Penguasa