radarsampitjawapos.com-Desa Kebonrejo, Salaman Kabupaten Magelang, kini berkembang menjadi satu sentra pembibitan tanaman buah buahan. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pembibitan akan menjadi penggerak ekonomi bagi warga desa setempat.
Usaha pembibitan itu bahkan menggantikan sebagian aktivitas pertanian konvensional, seperti padi, cabai, maupun palawija.
Kepala Desa Kebonrejo Ismun mengungkapkan usaha pembibitan tanaman kini menjadi potensi paling menonjol di desa itu. Warganya menilai usaha itu lebih menjanjikan secara ekonomi dibandingkan pertanian biasa.
"Pertanian lain seperti cabai, padi, atau palawija masih ada, tetapi banyak yang beralih ke pembibitan karena hasilnya lebih menjanjikan," ujarnya, Jumat (6/3) dikutip dari radarmagelangjawapos.com.
Menurutnya, dari berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan, terdapat tiga komoditas bibit buah yang paling dominan, yakni durian, kelengkeng, dan alpukat.
Selain ketiga jenis tersebut, warga juga memproduksi ragam bibit tanaman buah lainnya. Namun lanjut Ismun, tiga jenis tanaman tersebut menjadi yang paling banyak diminati pasar.
Awalnya, ketertarikan warga Desa Kebonrejo untuk terjun ke usaha pembibitan muncul karena mereka melihat langsung keberhasilan warga lain yang telah lebih dahulu menjalankannya.
Bahkan ada yang sebelumnya merantau kerja di pabrik atau proyek di luar kota, akhirnya berhenti dan jadi petani bibit.
Ismun mengungkapkan, mereka menjual produknya melalui dua cara, yakni langsung kepada pembeli maupun melalui pemasaran daring/online.
"Pembelinya banyak, ada dari Jawa Timur, Semarang, Purwodadi, Demak, Kudus, Banyumas, bahkan sampai Jakarta," paparnya.
Dengan sistem penjualan daring, bibit tanaman bahkan bisa dikirim hingga luar pulau selama masih memungkinkan dari sisi daya tahan tanaman. Bahkan, lanjut dia, ketika pembelian secaran daring, sampai Papua pun bisa dilayani selama ekspedisi pengiriman memungkinkan.
"Biasanya kita perhitungkan daya tahan tanaman dalam pengiriman, maksimal sekitar 10 hari perjalanan," beber Ismun.
Diskuinya, meski berkembang pesat, usaha pembibitan tanaman di Kebonrejo tetap menghadapi tantangan.Diantaranya, ketidakpastian pasar dan persaingan harga antarpenjual. Ismun menjelaskan harga bibit tanaman tidak memiliki standar baku seperti produk industri.
"Kami tidak bisa menentukan satu harga. Ada yang menjual Rp10 ribu, ada juga yang menjual Rp8 ribu atau Rp7 ribu. Itu tergantung kebutuhan masing-masing penjual," ungkap Ismun.
Selain itu, masalah transaksi juga menjadi tantangan tersendiri. Beberapa penjual bibit terkadang menghadapi kendala pembayaran dari pembeli yang berada di luar daerah. "Kadang ada yang membeli sistem COD ke luar pulau, tetapi pembayarannya ditunda atau bahkan tidak dibayar," imbuhnya.
Ismun menambahkan, faktor cuaca juga turut mempengaruhi usaha pembibitan. Terutama saat musim kemarau yang menyebabkan keterbatasan air bagi tanaman.
Namun menurut Ismun, kendala tersebut masih bisa diatasi oleh para petani dengan berbagai penyesuaian dalam proses budidaya.
Pemerintah desa bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) berencana mengembangkan konsep wisata perkebunan dengan memanfaatkan hamparan kebun buah yang sudah ada di wilayah desa.
"Di sini sudah ada kebun durian, alpukat, kelengkeng, dan jambu kristal. Potensi ini bisa dijual sebagai wisata kebun," pungkas Ismun.
Rencana pengembangan wisata ini juga melibatkan berbagai pihak, termasuk karang taruna serta penggerak wisata di kawasan Magelang dan Borobudur. (rmh/jpc)
Editor : Agus Jaka Purnama