Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Hikmah Ramadan. Dr Zaidul Akbar Uraikan Manfaat Tarawih Bagi Kesehatan Mental secara Neurosains

Agus Jaka Purnama • Sabtu, 21 Februari 2026 | 10:15 WIB

Ilustrasi jemaah berdoa di sela Salat Tarawih di masjid saat malam bulan Ramadan
Ilustrasi jemaah berdoa di sela Salat Tarawih di masjid saat malam bulan Ramadan

Ibadah di bulan Ramadan, bukan hanya sebagai refleksi fisik kita sebagai manusia, dari berbagai beban materi dunia yang melekat, ditarik oleh hawa nafsu. Melainkan juga sebagai refleksi untuk mengembalikan kesehatan mental spiritual kita, menuju ketenangan jiwa agar selalu kuat menjalani berbagai ujian di dunia.

Diuraikan Dr Zaidul Akbar dalam akun instagramnya, ada satu waktu di mana isi kepala manusia-manusia modern menjadi sangat bising, yaitu ketika malam tiba. Saat tubuh sudah lelah seharian didera oleh urusan dunia, tapi mata menolak terpejam.

Di atas kasur yang sepi, dada mendadak sesak oleh overthinking, cemas memikirkan hari esok, dan ketakutan pada hal-hal yang belum terjadi.

Malam hari seringkali menjadi medan perang paling sunyi bagi kesehatan mental kita. Namun, perhatikanlah betapa sayangnya Allah. Tepat di bulan Ramadan ini, Allah mengubah malam yang menakutkan itu menjadi malam-malam yang penuh rahmat, dan bahkan malam itu menjadi klinik-klinik penyembuhan jiwa yang paling agung.

​Pernahkah Anda merenung mengapa salat malam di bulan Ramadan dinamakan Tarawih? Ulama menjelaskan akar katanya adalah Tarwihah yang bermakna istirahat, relaksasi, atau jeda untuk bernapas lega. Inilah paradoks yang begitu indah. Logika manusia berkata berdiri berlama-lama setelah bekerja dan begitu lelah seharian adalah hal yang menyiksa, tapi logika langit justru berkata sebaliknya.

Kita diminta bahkan menguras sisa tenaga fisik kita agar pikiran kita yang overheating dan overthinking tadi—bahkan pikiran yang nyaris meledak karena urusan dunia itu—ternyata justru bisa diistirahatkan dengan Tarawih. Masya Allah.

Mari kita bedah keajaiban ini secara keilmuan saraf atau Neurosains. Saat seseorang berdiri tenang, ia mendengarkan ayat-ayat suci yang dibaca berulang-ulang, gelombang otaknya perlahan turun dari Beta menuju Alfa, dan bahkan Teta yang sangat rileks. Puncaknya adalah ketika kening Anda menyentuh bumi dalam sujud yang panjang.

Di detik itu, gravitasi menarik aliran darah yang segar dan kaya oksigen menuju langsung ke prefrontal cortex, bagian depan otak kita yang selama ini bertugas memproses rasa cemas, depresi, dan ketakutan.

​Sujud di bulan Ramadan sejatinya adalah posisi antidepresan terbaik yang didesain langsung bukan oleh manusia, tapi didesain langsung oleh Pemilik Langit tanpa bahan kimia dan bahkan tanpa efek samping. Saat Anda menangis dalam sujud itu, Allah sedang mematikan saklar kepanikan di dalam otak Anda.

Segala beban—bahkan yang memberatkan pundak—segala trauma yang mungkin selama ini mencekik dan bahkan menyumbat aliran darah, tumpah dan luruh ditarik oleh bumi. Digantikan dengan masuknya tuma'ninah, sebuah rasa aman yang absolut yang diberikan oleh Allah karena jiwa Anda sadar bahwa ia membutuhkan Rabb-nya, dan ia harus bersandar pada Zat yang menggenggam dirinya dan masa depan dirinya.

​Maka malam di bulan Ramadan ini, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam cemas di atas kasur. Bangkitlah, bentangkan sajadahmu, bawalah isi kepalamu yang bising dengan dunia yang penuh kemunafikan ini, dan bawalah juga jiwamu yang lelah itu di hadapan Rabb-mu. Nikmatilah Tarwihah itu. Biarkan malam-malam Ramadan itu memelukmu dan menyembuhkanmu.
Semoga Bermanfaat. (gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#Syaraf #kesehatan mental #salat tarawih #hikmah ramadan #Neurosains #Keilmuan #Dr Zaidul Akbar #overthingking #ibadah bulan ramadan