KUALA PEMBUANG-radarsampit.jawapos.com- Warga Desa Sungai Undang Kecamatan Seruyan Hilir, mulai mengenal potensi ekonomi ekosistem Mangrove, yakni gula Nipah. Produk olahan dari buah Nipah ini kini tengah dikembangkan sebagai alternatif sumber ekonomi warga setempat, sekaligus upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Sebelumnya, warga setempat tak banyak tahu bahwa buah Nipah bisa diolah menjadi gula. Program pendampingan yang dilakukan Gawi Bapakat pun membuka wawasan baru, bahwa Mangrove tidak hanya sekadar pelindung pantai dari abrasi, melainkan juga menyimpan nilai ekonomi.
“Yang penting dari gula Nipah ini bukan semata-mata soal pertama kali hadir di Seruyan, tapi bagaimana proses pemanfaatannya dilakukan secara lestari,” kata Damba, staf lapangan Gawi Bapakat.
Menurutnya, Nipah yang merupakan bagian dari ekosistem Mangrove, ketika dimanfaatkan justru mendorong warga untuk menjaga hutan, bukan menebangnya.
Pihaknya menilai, kondisi laut yang tak menentu belakangan ini membuat penghasilan nelayan semakin rentan. Gula Nipah pun diharapkan bisa menjadi alternatif pendapatan bagi keluarga nelayan.
Saat ini lanjut Damba, sebanyak 15 petani masih mendapat insentif pendampingan agar tetap bisa belajar mengolah gula nipah tanpa kehilangan penghasilan harian.
“Kalau tidak ada insentif, tentu masyarakat ragu untuk beralih. Mereka perlu kepastian agar dapur tetap ngebul. Tapi tren positifnya sudah mulai terlihat. Meski produksinya masih kecil, kami yakin 1 sampai 2 tahun lagi Desa Sungai Undang bisa mandiri dengan produksi gula Nipahnya,”paparnya.
Damba menjelaskan, dari segi rasa gula Nipah tak jauh berbeda dengan gula merah biasa, hanya saja sedikit asin karena dipengaruhi air pasang surut pesisir laut.
Produk ini sudah mulai dipasarkan dalam bentuk padat maupun cair, bahkan telah masuk ke beberapa kedai kopi di Kuala Pembuang dan Sampit. “Sekarang kan kopi susu gula aren sedang tren. Kami ingin tawarkan alternatif kopi susu gula Nipah juga,” pungkasnya.
Ia menambahkan, dengan harga Rp 20 ribu per 250 gram, gula Nipah dari Seruyan tak hanya menghadirkan manisnya hasil bumi, tetapi juga pesan kuat menjaga ekosistem mangrove berarti menjaga masa depan pesisir. (rdw/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama