Radarsampit.jawapos.com - Fenomena “Gen Z stare” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan dunia kerja.
Istilah ini merujuk pada ekspresi wajah datar atau kosong tanpa senyum maupun reaksi emosional yang sering ditampilkan generasi Z dalam selfie, video, atau bahkan interaksi langsung.
Tatapan yang terlihat dingin ini menimbulkan perdebatan lintas generasi, terutama ketika dianggap kurang sopan dalam situasi sosial.
Menyadur psychologytoday.com, tatapan kosong tersebut bukan sekadar gaya, melainkan strategi pengaturan emosi.
Generasi Z memilih menahan ekspresi untuk menghindari penilaian negatif yang begitu mudah muncul di era digital.
Alih-alih mengikuti kebiasaan tersenyum ala generasi sebelumnya, mereka menampilkan diri dengan cara yang dianggap lebih jujur, meskipun terlihat sinis atau tidak terkesan.
Selain itu, kebiasaan ini juga lahir dari kejenuhan budaya. Gen Z tumbuh dalam arus media yang terus-menerus menyuguhkan konten visual, membuat mereka terbiasa dengan stimulasi berlebih hingga ekspresi antusias berlebihan terasa tidak relevan.
Namun, ketika dibawa ke dunia nyata, tatapan seperti ini kerap disalahartikan sebagai tanda kurangnya keterampilan sosial, apalagi di lingkungan kerja atau layanan pelanggan.
Kritik pun bermunculan. Generasi yang lebih tua menilai sikap ini sebagai bentuk ketidaksopanan atau kemalasan berinteraksi.
Padahal, penelitian menunjukkan banyak anak muda yang masih canggung beradaptasi setelah lama terisolasi selama pandemi, sehingga tatapan kosong sering kali lebih berkaitan dengan rasa tidak percaya diri ketimbang sikap acuh.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, generasi Millennial juga pernah dikritik karena “millennial pause” dalam berbicara di depan kamera.
Artinya, setiap generasi punya ciri khas komunikasi yang sering disalahpahami oleh generasi lain. Bagi Gen Z, “stare” ini justru menjadi simbol keaslian dan penolakan terhadap kepura-puraan sosial.
Alih-alih menghakimi, para ahli menilai penting untuk memahami konteks di balik ekspresi ini. Tatapan kosong bukan berarti malas atau tidak sopan, melainkan refleksi dari nilai budaya baru yang lebih mengutamakan kejujuran.
Pendekatan empati dan pelatihan keterampilan komunikasi lintas generasi dinilai lebih efektif dibanding sekadar kritik.
Dengan begitu, “Gen Z stare” bisa dipahami sebagai bagian dari perubahan zaman, bukan sekadar tren yang mengganggu. (*)
Editor : Slamet Harmoko