Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Karnaval 17 Agustus Tak Harus Mahal, Ini Ide Unik dan Lokal Khas Kotim

Usay Nor Rahmad • Jumat, 1 Agustus 2025 | 10:08 WIB
Ilustrasi pawai karnaval dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke - 80 Kemerdekaan Indonesia. (Dibuat dengan akal imitasi)
Ilustrasi pawai karnaval dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke - 80 Kemerdekaan Indonesia. (Dibuat dengan akal imitasi)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Semarak 17 Agustus kerap identik dengan karnaval yang meriah. Namun di tengah keterbatasan anggaran, banyak warga mencari konsep yang lebih sederhana namun tetap bermakna.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, sejumlah ide kreatif mulai digagas warga untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI dengan cara yang unik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Alih-alih menampilkan barisan kostum pahlawan atau marching band seperti biasanya, warga bisa memanfaatkan bahan daur ulang, kardus bekas, hingga anyaman lokal untuk menampilkan kekayaan budaya dan alam Kotim.

Selain ramah lingkungan, konsep ini juga mendekatkan generasi muda pada identitas daerahnya.

Salah satu ide yang cukup menarik adalah menghadirkan miniatur Rumah Betang dan Mandau, dua ikon budaya Dayak yang kental di Kalimantan.

Miniatur tersebut bisa dibuat dari kardus, bilah bambu, dan tali rafia, lalu dipanggul atau dibawa beriringan sambil mengenakan aksesoris khas suku Dayak.

Kostum kepala berbulu atau kalung manik-manik pun bisa dibuat dari sedotan bekas dan kertas warna.

Di daerah pesisir seperti Samuda atau Teluk Sampit, warga bisa mengangkat tema kehidupan sungai. Anak-anak dan remaja bisa membuat miniatur perahu klotok dari triplek ringan atau kardus tebal.

Miniatur tersebut dikawal oleh peserta yang berpakaian nelayan, lengkap dengan jaring ikan buatan tangan. Sungai Mentaya sebagai nadi kehidupan masyarakat bisa ditampilkan secara simbolik dengan bentangan kain biru yang digelar sepanjang parade.

Tak hanya itu, hasil bumi juga bisa menjadi bahan inspirasi. Nanas, rotan, karet, hingga ikan hasil tangkapan bisa diolah menjadi kostum “produk lokal berjalan”.

Misalnya, sekelompok anak-anak tampil menjadi buah nanas, keranjang rotan, atau bahkan stan pasar mini yang menjajakan dodol dan keripik lokal, semuanya dibuat dari bahan sederhana dan murah.

Karnaval juga bisa menjadi momen edukasi. Di tengah ancaman kabut asap yang kerap terjadi akibat kebakaran hutan dan lahan, warga bisa menghadirkan arak-arakan bertema “Jaga Hutan Kita”.

Anak-anak tampil sebagai awan asap, petugas pemadam, dan satwa hutan yang terkena dampaknya, lengkap dengan narasi yang menyentuh.

“Kalau ingin beda tapi tetap bisa dibuat dengan gotong royong, manfaatkan saja yang ada di sekitar. Kardus, daun kelapa, bahkan keranjang bekas bisa disulap jadi properti yang keren,” kata Iwan, salah satu warga Baamang, yang kerap membuat miniatur dalam karnaval..

Kegiatan seperti ini bukan sekadar parade, tapi juga ruang edukasi dan pelestarian budaya lokal. Dalam satu gerakan, masyarakat bisa merayakan kemerdekaan sekaligus mengingat kembali kekayaan yang dimiliki daerahnya. Dan yang terpenting, siapa pun bisa terlibat, tanpa harus keluar biaya besar.

Karena sejatinya, semangat 17 Agustus bukan soal kemewahan, melainkan kreativitas dan kebersamaan. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#karnaval HUT Kemerdekaan RI #ide #mahal #HUT ke 80 Kemerdekaan RI