Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Mengapa Musim Kemarau Jadi Waktu Favorit Main Layang-Layang? Ini Alasannya

Usay Nor Rahmad • Rabu, 23 Juli 2025 | 08:56 WIB
Anak-anak di Sampit sedang memainkan layangan. (Usay Nor Rahmad untuk Radar Sampit )
Anak-anak di Sampit sedang memainkan layangan. (Usay Nor Rahmad untuk Radar Sampit )

Radarsampit.jawapos.com - Saat musim kemarau tiba, langit yang cerah kerap dipenuhi warna-warni layang-layang atau lebih dikenal dengan layangan.

Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, banyak yang memanfaatkan waktu sore hari untuk menerbangkan layangan di lapangan, pinggir jalan, hingga area persawahan. Tapi, mengapa musim kemarau menjadi waktu paling populer untuk bermain layang-layang?

1. Angin Kencang dan Stabil di Musim Kemarau

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), selama musim kemarau, arah dan kekuatan angin cenderung lebih stabil dan dominan dari arah timur-tenggara (monsoon Australia).

Ini membuat layang-layang lebih mudah diterbangkan dan tetap melayang dalam waktu lama tanpa jatuh. Sumber: BMKG – Informasi Musim Kemarau di Indonesia

2. Langit Cerah, Minim Hujan

Cuaca kering dan cerah di musim kemarau menjadi kondisi ideal untuk aktivitas luar ruangan. Tidak ada hujan yang mengganggu atau langit mendung yang menyulitkan visibilitas.

Menurut data iklim BMKG, curah hujan pada bulan Juli hingga September berada pada titik terendah dalam setahun di sebagian besar wilayah Indonesia.

3. Tradisi dan Kegiatan Musiman

Bermain layang-layang di musim kemarau juga berkaitan erat dengan budaya lokal. Di Bali, misalnya, Festival Layang-Layang Internasional (Bali Kite Festival) diselenggarakan setiap musim kemarau sejak 1979.

Festival ini tidak hanya sekadar permainan, tetapi juga memiliki makna spiritual sebagai wujud syukur kepada dewa-dewa atas panen dan musim yang baik.
Sumber: The Bali Kite Festival, UNESCO Intangible Cultural Heritage Reports.

4. Cara Murah Meriah Mengisi Waktu Luang

Menurut sosiolog Dr. Heru Nugroho dari UGM, permainan tradisional seperti layangan memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar kreativitas, bersosialisasi, dan mengenal kompetisi secara sehat.

Dibandingkan permainan digital, aktivitas ini jauh lebih aktif secara fisik dan dapat mempererat ikatan sosial di lingkungan sekitar.
Sumber: Jurnal “Sosiologi Permainan Tradisional”, UGM, 2019.

5. Nilai Sosial dan Kebersamaan

Banyak komunitas dan kelompok pemuda lokal memanfaatkan musim kemarau untuk berkumpul dan berkompetisi secara informal.

Ini memperkuat aspek kebersamaan, kerja tim, dan rasa memiliki terhadap budaya lokal. Bahkan di beberapa daerah, permainan layangan disertai dengan ritual atau tradisi khas daerah masing-masing.

Catatan: Waspada Bahaya Benang Layangan

Sayangnya, keseruan ini juga berisiko jika tidak dilakukan dengan bijak. Saat ini telah terjadi beberapa kasus warga celaka akibat benang layang-layang di Sampit, Kotawaringin Timur. Terutama untuk jenis gelasan, terbaru seorang perempuan berseragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi korban akibat benang layangan tajam yang melintang di jalan.

Insiden terjadi di Jalan Jeruk 1, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Selasa (22/7/2025) menjelang waktu magrib.

Musim kemarau dan layang-layang seakan menjadi pasangan yang tak terpisahkan. Didukung oleh angin stabil, cuaca cerah, dan tradisi budaya, permainan ini terus bertahan lintas generasi. Namun, penting untuk mengedepankan keselamatan dan tanggung jawab agar kesenangan ini tidak membawa risiko. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#musim kemarau #waktu #favorit #layang layang #layangan